JAKARTA, EksisJambi.com – Di balik keindahan Kepulauan Seribu, terdapat sebuah pulau kecil yang menyimpan sejarah panjang dan penuh cerita kelam. Pulau Onrust, yang dalam bahasa Belanda berarti “tidak pernah beristirahat”, menjadi saksi bisu perjalanan Batavia selama lebih dari 400 tahun.
Pulau seluas sekitar 3,5 kilometer persegi ini pernah menjadi pusat galangan kapal VOC, benteng pertahanan, tempat karantina jamaah haji, hingga penjara bagi tahanan politik dan tawanan perang.
Pulau Onrust mulai dikenal sejak masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada abad ke-17. Pada 1610, VOC mendapatkan izin dari Pangeran Jayakarta untuk mengambil kayu di sekitar Teluk Jayakarta.
Kemudian pada 1613, VOC membangun galangan kapal pertama di Pulau Onrust yang digunakan untuk memperbaiki dan merawat kapal-kapal dagang mereka.
Seiring meningkatnya aktivitas perdagangan, VOC memperluas fasilitas di pulau tersebut. Pada 1615 dibangun gudang penyimpanan dan didatangkan keluarga Tionghoa untuk menjadi bagian dari komunitas pekerja.
Pada 1656, VOC membangun benteng kecil dengan dua bastion. Benteng tersebut kemudian diperluas pada 1671 menjadi benteng berbentuk segi lima yang menggunakan material bata dan karang.
Memasuki 1674, Onrust semakin berkembang dengan pembangunan gudang besi, dok kapal, kincir angin untuk menggergaji kayu, serta mempekerjakan puluhan tukang kayu dan tenaga ahli.
Bahkan pada 1770, kapal penjelajah Inggris HMS Endeavour yang dipimpin Kapten James Cook sempat singgah di Onrust untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Australia.
Namun kejayaan Onrust tidak berlangsung selamanya. Pada 1800 dan 1810, Inggris menyerang Batavia dan menghancurkan berbagai fasilitas di Pulau Onrust sebagai bagian dari strategi melemahkan kekuatan Belanda.
Setelah mengalami kehancuran, Pulau Onrust kembali dibangun pada 1828 dengan melibatkan tenaga pekerja dari komunitas Tionghoa dan para tahanan.
Pada 1856, fasilitas pulau ditambah dengan pembangunan dok apung untuk mendukung perbaikan kapal. Namun setelah Pelabuhan Tanjung Priok mulai beroperasi pada 1883, peran Onrust sebagai pusat perkapalan mulai berkurang.
Pada 1911, pemerintah kolonial Belanda mengubah fungsi Pulau Onrust menjadi tempat karantina jamaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.
Pulau tersebut mampu menampung sekitar 3.500 jamaah. Para calon haji menjalani pemeriksaan kesehatan dan masa observasi sebelum melakukan perjalanan laut menuju Mekah yang saat itu bisa berlangsung berbulan-bulan.
Jamaah yang dinyatakan sehat akan menjalani masa karantina sekitar lima hari di Onrust, sementara mereka yang sakit dirawat di Pulau Cipir yang saat itu dikenal sebagai Pulau Sakit.
Selain alasan kesehatan, kebijakan karantina juga memiliki kepentingan politik bagi pemerintah kolonial. Belanda khawatir jamaah haji yang pulang dari Timur Tengah membawa gagasan perlawanan dan semangat nasionalisme yang dapat mengancam kekuasaan kolonial.
Pada periode 1933 hingga 1940, Pulau Onrust kembali berubah fungsi menjadi tempat penahanan bagi pemberontak dari peristiwa kapal perang HNLMS Zeven Provincien.
Pada 1939, Belanda juga menggunakan Onrust sebagai kamp tawanan bagi warga Jerman di Hindia Belanda yang dicurigai memiliki hubungan dengan aktivitas mata-mata.
Ketika Jepang menguasai Batavia pada 1942, Pulau Onrust digunakan sebagai penjara bagi kriminal kelas berat.
Setelah Indonesia merdeka, sekitar 1945–1946, pulau ini sempat digunakan Sekutu untuk menahan enam awak kapal selam Jerman U-195. Para tawanan kemudian dipindahkan ke Malang karena dikhawatirkan akan dibebaskan oleh pejuang Republik Indonesia.
Setelah masa kolonial berakhir, fungsi Pulau Onrust terus berubah. Pada 1960 hingga 1965, pulau ini sempat digunakan sebagai rumah sakit karantina penyakit menular dan tempat penampungan warga terlantar.
Pada 1968, sebagian bangunan bersejarah mengalami kerusakan karena materialnya diambil oleh warga.
Melihat nilai sejarah yang besar, pada 1972 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menetapkan Pulau Onrust sebagai kawasan bersejarah yang harus dilindungi.
Kini, Pulau Onrust menjadi bagian dari kawasan cagar budaya Taman Purbakala Kepulauan Seribu. Di lokasi tersebut masih dapat ditemukan sisa benteng, pelabuhan kuno, reruntuhan bangunan VOC, Museum Pulau Onrust, serta makam tokoh DI/TII, S.M. Kartosoewirjo.
Saat ini, hanya beberapa keluarga yang masih tinggal di pulau tersebut.
Wisatawan dapat menuju Pulau Onrust melalui beberapa jalur, salah satunya dari Marina Ancol menggunakan kapal menuju Pulau Bidadari kemudian melanjutkan perjalanan ke Onrust.
Alternatif lainnya adalah berangkat dari Muara Kamal menggunakan kapal nelayan.
Pulau Onrust bukan sekadar pulau kecil di Kepulauan Seribu. Pulau ini menjadi saksi pergantian zaman, mulai dari kejayaan VOC, kebijakan kolonial terhadap jamaah haji, konflik perang dunia, hingga perjuangan mempertahankan sejarah Indonesia.
Jejak benteng, reruntuhan bangunan, dan kisah panjang di baliknya menjadikan Pulau Onrust sebagai salah satu situs sejarah paling menarik di Jakarta.*







