Oleh: Ali Prawinata, S.H., M.H.
Eksisjambi.com- Langit Merangin siang itu tak ubahnya kanvas kelabu yang menggantung setengah hati. Dari puncak Masurai, tempat awan seolah bisa digenggam, alam menyuguhkan kemegahan yang membuat dada sesak bukan karena keindahan, tapi karena ironi. Di bawah sana, di antara sawah, hutan, dan kampung-kampung kecil, ada sesuatu yang perlahan mati—bukan pohon, bukan satwa, tapi demokrasi itu sendiri.
Di lereng yang sunyi itu, saya berbincang dengan seorang pemuda. Dahulu ia pengobar semangat, penjaga bara perlawanan di jalanan. Kini, suaranya lebih sering melayang ke langit, bukan ke telinga rakyat. Ia menyeduh kopi perlahan, seperti sedang menakar kesabaran yang makin tipis.
“Merangin sedang kehilangan rohnya,” katanya. “Demokrasi kita kini hanya panggung tanpa naskah. Kritik dibungkam, pendidikan politik dipreteli. Rakyat disuruh diam, lalu diajari bersyukur.”
Saya hanya bisa menatap matanya, mencari nyala yang dulu pernah membakar podium-podium orasi. “Lalu kenapa tidak bangkit lagi? Suarakan lagi yang benar, lawan yang bengkok?”
Ia tertawa. Getir, bukan geli. Bukan karena ia takut—tapi karena ia tahu apa yang sedang kita hadapi jauh lebih menakutkan dari represi: yaitu apatisme yang dirayakan.
“Kita ini siapa?” gumamnya. “Yang punya kuasa tetap memegang mic, yang tak punya hanya jadi gema samar. Rakyat cuma jadi audiens dalam pertunjukan kekuasaan, tak pernah diberi dialog.”
Apa yang ia katakan bukan hiperbola. Di negeri ini, hierarki bukan lagi alat administratif, tapi pagar sosial yang kokoh. Yang memprotes dianggap sakit hati. Yang mengeluh dicap pembuat gaduh. Dan yang bersuara terlalu keras, akan dibungkam dengan label, bukan dilawan dengan argumen.
“Sekarang, jika kita bicara soal keadilan, kita akan ditertawakan. Jika bicara soal kejujuran, kita dituduh naif. Dan jika bicara soal harapan, kita dianggap delusi,” lanjutnya. “Akhirnya, satu-satunya tempat mengadu yang tersisa hanya Tuhan. Karena mengadu ke wakil rakyat? Paling-paling diantar keluar pagar oleh satpam.”
Saya terdiam. Dari ketinggian Masurai, Merangin terlihat kecil—tapi persoalan demokrasi di dalamnya terlalu besar. Negeri ini pernah dibangun di atas semangat gotong royong, tapi kini berubah menjadi negeri yang dipertontonkan. Citra jadi mata uang baru, dan demokrasi hanya jadi dekorasi.
Maka jangan salahkan generasi muda jika mereka memilih diam. Mereka bukan kehilangan semangat, hanya sudah tahu bahwa suara mereka hanya dianggap bising oleh kekuasaan yang lebih suka tepuk tangan palsu.
Dan mungkin, di titik ini kita benar-benar harus bertanya, Bukan “siapa pemimpin kita sekarang,” tapi apakah rakyat masih percaya bahwa mereka layak dipimpin?
Karena krisis demokrasi sejatinya bukan ketika sistem rusak, tapi ketika rakyat berhenti percaya bahwa suaranya punya arti.(*)







