Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Kamis, 19 Maret 2026 - 08:30 WIB

Ambung, Keranjang Tradisional Suku Anak Dalam yang Sarat Nilai Budaya

Ambung Suku Anak Dalam di Jambi menjadi simbol kearifan lokal,

Ambung Suku Anak Dalam di Jambi menjadi simbol kearifan lokal,

JAMBI,http://Eksisjambi.com –  Ambung, keranjang gendong tradisional khas Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba di Provinsi Jambi, menjadi salah satu simbol kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini. Di tengah arus modernisasi, keberadaan ambung tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.

Ambung terbuat dari anyaman rotan yang di rangkai secara manual menggunakan teknik tradisional. Bentuknya sederhana namun kokoh, dengan bagian bawah di susun bersilang guna meningkatkan daya tahan dan kekuatan.

Keranjang ini di lengkapi dengan tali pengikat yang dapat di sangga menggunakan dahi atau bahu, sehingga memudahkan penggunanya membawa beban hingga sekitar 25 kilogram.

Dalam kehidupan sehari-hari Orang Rimba, ambung memiliki fungsi yang sangat vital. Keranjang ini di gunakan sebagai alat angkut utama untuk membawa berbagai hasil hutan, seperti jengkol, getah damar, hingga hasil buruan seperti kijang.

Baca Juga :  BMKG: Bulan Purnama 30 Juni 2026 Berpotensi Picu Banjir 

Selain itu, ambung juga di manfaatkan untuk mengangkut kayu bakar serta perlengkapan rumah tangga, terutama saat mereka berpindah tempat secara nomaden.

Cara penggunaannya pun khas. Ambung di gendong di punggung, dengan tali yang di sangga menggunakan kepala atau kedua bahu, di sesuaikan dengan kenyamanan serta berat beban yang di bawa. Fleksibilitas ini menjadikan ambung sebagai alat yang efisien dalam mendukung mobilitas masyarakat hutan.

Ambung hadir dalam berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil untuk membawa bekal, hingga ukuran besar yang bahkan dapat di gunakan untuk menggendong anak-anak. Keberagaman ukuran ini menunjukkan fungsinya yang multifungsi dalam kehidupan Orang Rimba.

Baca Juga :  Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kerinci Gelar Operasi JAGRATARA 2024

Lebih dari sekadar alat angkut, ambung juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Kerajinan ini umumnya di buat oleh perempuan Suku Anak Dalam sebagai bagian dari tradisi yang di wariskan secara turun-temurun.

Proses pembuatannya mencerminkan keterampilan serta pengetahuan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Keberadaan ambung hingga saat ini menjadi bukti kemampuan adaptasi Suku Anak Dalam terhadap lingkungan hutan.

Meski kini mulai berinteraksi dengan kehidupan di luar hutan, ambung tetap di pertahankan sebagai bagian penting dalam aktivitas ekonomi dan sosial mereka.

Ambung bukan sekadar keranjang, melainkan representasi dari kemandirian, ketahanan hidup, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam yang terus di jaga oleh Suku Anak Dalam di tengah perubahan zaman.**

Share :

Baca Juga

BPJT bersama PT Jasamarga menyiapkan tol fungsional Arus Mudik Lebaran 2026

Daerah

BPJT Siapkan Tol Fungsional Solo–Yogyakarta–NYIA, Segmen Prambanan–Purwomartani Dibuka Saat Lebaran 2026
Libur panjang 2026

Daerah

Resmi! Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026
Huawei dan HP Inc. resmi menandatangani perjanjian silang lisensi paten global

Internasional

Huawei dan HP Inc. Teken Perjanjian Lisensi Paten Global

Daerah

Depati Nan Sepuluh dan Ninik Mamak Lekuk Limapuluh Tumbi Lempur Tegaskan Perlindungan Rimbo Adat

Advertorial

Rektor IAIN Kerinci Ikuti Kegiatan Rakorda BAZNAS Se-Provinsi Jambi di Tanjung Jabung Barat

Daerah

Wawako Antos ikuti Peringati HAORNAS 2021 di Tengah Pandemi Covid-19

Advertorial

Wagub Sani Buka Rakor FOPD Bidang Infrastruktur

Daerah

LKPJ Bupati Tanjab Barat 2025 Resmi Diserahkan, DPRD Segera Lakukan Evaluasi