Home / Artikel / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Minggu, 26 Juli 2026 - 06:52 WIB

Empat Batu Satu Kutukan, Menguak Misteri Prasasti Karang Berahi

Jambi,http://Eksisjambi.com  –  Perbandingan empat prasasti Melayu Kuno yang selama ini di kaitkan dengan Kedatuan Sriwijaya menunjukkan bahwa Prasasti Karang Berahi di Kabupaten Merangin, Jambi, memiliki kemiripan tekstual yang sangat kuat dengan Prasasti Telaga Batu, terutama pada bagian pembuka berisi sumpah dan kutukan. Namun, hasil pembacaan langsung terhadap teks juga memperlihatkan adanya sejumlah perbedaan penting yang selama ini jarang dijelaskan secara rinci dalam tulisan populer.

Temuan tersebut dipaparkan oleh Mohammad Basyir Zubair (Embas) dalam artikel keempat Seri Purbakala Jambi berjudul Empat Batu, Satu Kutukan: Membaca Karang Berahi Berdampingan dengan Kota Kapur, Telaga Batu, dan Palas Pasemah.

Artikel ini menyandingkan langsung transliterasi empat prasasti, yakni Kota Kapur (Bangka), Telaga Batu (Palembang), Palas Pasemah (Lampung Selatan), dan Karang Berahi (Merangin, Jambi), untuk menguji sejauh mana kemiripan maupun perbedaan isi masing-masing prasasti.

Selama ini keempat prasasti tersebut sering disebut sebagai kelompok “prasasti kutukan Sriwijaya” karena sama-sama berisi sumpah terhadap pihak yang tidak setia kepada penguasa. Namun, menurut penulis, klaim mengenai kemiripan itu umumnya hanya disampaikan sebagai kesimpulan tanpa memperlihatkan perbandingan teks secara langsung.

Melalui penyandingan transliterasi, pembaca dapat melihat sendiri bahwa sebagian rumusan memang hampir identik, sementara bagian lainnya menunjukkan fungsi dan konteks yang berbeda.

Salah satu temuan penting ialah bahwa dari empat prasasti tersebut, hanya Prasasti Kota Kapur yang secara eksplisit mencantumkan angka tahun.

Prasasti itu bertarikh Tahun Saka 608 atau sekitar 686 Masehi, sekaligus menjadi dasar utama para ahli memperkirakan usia tiga prasasti lainnya melalui kajian paleografi atau perbandingan bentuk aksara.

Sebaliknya, Prasasti Telaga Batu, Palas Pasemah, dan Karang Berahi tidak mencantumkan angka tahun sama sekali, sehingga penanggalannya merupakan hasil analisis ilmiah berdasarkan kemiripan gaya penulisan dengan Kota Kapur.

Keempat prasasti memiliki karakteristik berbeda.

Baca Juga :  Sekda Tanjab Barat Buka Kegiatan Sosialisasi PP Bidang Kepegawaian Tahun 2023

Prasasti Kota Kapur ditemukan pada 1892 di Bangka, terdiri atas 10 baris berbahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa dan memuat kutukan sekaligus catatan keberangkatan pasukan Sriwijaya menuju “Bhumi Jawa”.

Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang pada 1935. Berisi 28 baris dan dikenal sebagai prasasti kutukan terpanjang karena memuat daftar jabatan yang sangat lengkap, mulai dari putra raja, pejabat kerajaan, hakim, panglima, pedagang hingga budak kerajaan.

Prasasti Palas Pasemah ditemukan di Lampung Selatan sekitar 1957–1958. Sebagian awal prasasti telah aus, namun isi yang masih terbaca memperlihatkan pola kutukan yang sejajar dengan Kota Kapur dan Karang Berahi.

Sementara itu, Prasasti Karang Berahi ditemukan pada 1904 di Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi. Prasasti ini terdiri atas 16 baris beraksara Pallawa, namun kondisinya telah mengalami keausan sehingga beberapa bagian sulit dibaca.

Karang Berahi dan Telaga Batu Hampir Identik

Perbandingan transliterasi menunjukkan bahwa empat baris pembuka Karang Berahi dan Telaga Batu hampir sama kata demi kata.

Perbedaan yang muncul lebih banyak berupa variasi penulisan huruf seperti penggunaan v dan w, sesuatu yang lazim dalam transliterasi aksara Pallawa.

Kesamaan tersebut memperlihatkan bahwa kedua prasasti kemungkinan menggunakan rumusan resmi atau templat kutukan yang sama dalam lingkungan pemerintahan Sriwijaya.

Telaga Batu melanjutkan isi prasasti dengan daftar jabatan pemerintahan yang sangat panjang, sedangkan Karang Berahi langsung memasuki rumusan sumpah yang lebih ringkas.

Frasa “Kadatuan Sriwijaya” Ternyata Ada

Artikel ini juga mengoreksi anggapan yang berkembang pada sejumlah ringkasan populer bahwa nama Sriwijaya tidak disebutkan dalam Prasasti Karang Berahi.

Berdasarkan transliterasi yang dipublikasikan George Coedès, frasa “kadatuan Srivijaya” ternyata memang tertulis secara eksplisit pada prasasti tersebut.

Namun demikian, prasasti itu tidak menyebut nama raja, gelar penguasa maupun nama Jambi, sehingga identitas penguasa hanya dirujuk secara umum melalui konsep Kedatuan Sriwijaya.

Baca Juga :  4 Orang Ditetapkan Tersangka Korupsi Dana BOS SMA Negeri 6 Merangin Oleh Sat Reskrim Polres Merangin

Palas Pasemah Memiliki Unsur Penaklukan

Perbandingan berikutnya menunjukkan adanya perbedaan penting antara Palas Pasemah dan Karang Berahi.

Menurut kajian Boechari, Palas Pasemah mengandung narasi yang di tafsirkan sebagai peringatan penaklukan wilayah Lampung Selatan oleh Sriwijaya.

Sebaliknya, pada bagian Karang Berahi yang masih dapat dibaca publik, belum ditemukan narasi eksplisit mengenai penaklukan suatu wilayah tertentu.

Karena itu, penulis menilai bahwa penyebutan Karang Berahi sebagai bukti langsung penaklukan Jambi masih memerlukan pembuktian tekstual yang lebih kuat.

Di antara empat prasasti tersebut, Kota Kapur memiliki dua keunggulan yang tidak dimiliki lainnya.

Selain memuat tahun yang pasti, prasasti ini juga mencatat peristiwa keberangkatan pasukan Sriwijaya menyerang “Bhumi Jawa” yang tidak tunduk.

Kombinasi antara tanggal dan peristiwa sejarah konkret itulah yang menjadikan Kota Kapur sebagai jangkar kronologis bagi Telaga Batu, Palas Pasemah, maupun Karang Berahi.

Perbandingan langsung terhadap empat prasasti memperlihatkan bahwa Karang Berahi memang memiliki hubungan tekstual yang sangat erat dengan tradisi prasasti Sriwijaya, terutama melalui kesamaan rumusan pembuka dan penyebutan Kadatuan Sriwijaya.

Namun demikian, bukti yang tersedia saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa Prasasti Karang Berahi secara eksplisit mencatat penaklukan wilayah Jambi, sebagaimana Palas Pasemah ditafsirkan merekam penaklukan Lampung Selatan.

Dengan demikian, Karang Berahi lebih tepat dipahami sebagai dokumen sumpah dan kutukan yang menunjukkan keberadaan otoritas Kedatuan Sriwijaya di kawasan Merangin, bukan sebagai catatan langsung mengenai penaklukan Jambi.

Penulis juga mendorong penelitian lanjutan terhadap seluruh 16 baris transliterasi Karang Berahi melalui publikasi epigrafis primer karya George Coedès, Boechari maupun J.G. de Casparis, guna memastikan apakah bagian prasasti yang telah aus masih menyimpan informasi historis yang belum banyak dipublikasikan.

Penulis: Mohammad Basyir Zubair (Embas)*

Share :

Baca Juga

Daerah

Sahroni : Damkar Responsif, Tanggap, dan Tanpa Mengeluh

Daerah

Pemdes Aur Duri Sukses Lakukan Sosialisasi Covid Dan Stunting

Advertorial

Gubernur Al Haris Hadiri Rapat Koperasi Merah Putih
Perumda Air Minum Tirta Khayangan Kota Sungai Penuh menerima kunjungan PUPR Pusat

Daerah

Perumda Tirta Khayangan Sungai Penuh Terima Kunjungan PUPR Pusat
Yusril Ihza Mahendra,

Internasional

Pemerintah Kaji Pemulangan Ribuan WNI dari Penjara Malaysia, 5.800 Orang 

Advertorial

Pemkot Sungai Penuh Peringati Hari Lahir Pancasila

Daerah

Pemilihan Pemuda Pelopor Bidang Pangan Tingkat Nasional di Kota Jambi

Daerah

Pemkot Sungai Penuh Peringkat 1 Kepatuhan Pelayanan Publik