YOGYAKARTA, – Aktivitas Gunung Merapi hingga Minggu (7/6/2026) sore masih terpantau cukup tinggi. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), tercatat puluhan kejadian gempa guguran dan gempa hybrid selama periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB.
Data yang di rilis melalui sistem MAGMA-VAR menunjukkan Gunung Merapi yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih berstatus Level III (Siaga).
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi di laporkan cerah. Angin bertiup tenang ke arah utara dengan suhu udara berkisar antara 19,8 hingga 21 derajat Celsius. Kelembaban udara tercatat antara 54 hingga 71,6 persen.
Secara visual, gunung terlihat jelas dari pos pengamatan dan tidak teramati adanya asap yang keluar dari kawah.
Meski secara visual tampak tenang, aktivitas kegempaan masih cukup intens. BPPTKG mencatat beberapa jenis gempa vulkanik yang terjadi selama enam jam pengamatan.
Rinciannya sebagai berikut:
- Gempa Guguran: 33 kali dengan amplitudo 2–15 mm dan durasi 50,67–165,8 detik.
- Gempa Hybrid/Fase Banyak: 32 kali dengan amplitudo 2–24 mm dan durasi 10,67–32 detik.
- Gempa Vulkanik Dangkal: 1 kali dengan amplitudo 46 mm dan durasi 19,58 detik.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih berlangsung.
BPPTKG menjelaskan bahwa potensi bahaya utama saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG).
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya meliputi:
- Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer.
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
- Sementara pada sektor tenggara meliputi:
- Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer.
- Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer.
Selain itu, material vulkanik dari letusan eksplosif berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan yang termasuk daerah potensi bahaya.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Gunung Merapi juga di minta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Selain itu, masyarakat di minta mengantisipasi dampak abu vulkanik apabila terjadi erupsi sewaktu-waktu.
BPPTKG menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi akan di evaluasi kembali apabila terjadi perubahan signifikan berdasarkan hasil pemantauan terbaru.
Laporan aktivitas Gunung Merapi periode 7 Juni 2026 pukul 12.00–18.00 WIB ini di susun oleh petugas pengamat Yulianto berdasarkan data dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG.**







