Jakarta,Eksisjambi.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali di buka di zona merah pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Mata uang Garuda melemah 17 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp17.933 per dolar AS, di bandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.916 per dolar AS.
Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah dinamika pasar keuangan global. Pergerakan mata uang domestik di pengaruhi berbagai faktor, mulai dari sentimen ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga bank sentral global, hingga kondisi permintaan dan penawaran valuta asing di pasar.
Meski pelemahannya relatif tipis, pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi aktivitas perdagangan, investasi, serta biaya impor di dalam negeri.
Di sisi lain, penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia juga menjadi salah satu faktor yang memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Investor masih mencermati perkembangan data ekonomi global yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.
Analis menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih berpotensi berfluktuasi mengikuti sentimen eksternal. Oleh karena itu, pelaku pasar di imbau tetap mencermati perkembangan ekonomi global maupun kebijakan yang di ambil otoritas moneter.
Sementara itu, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.*







