Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:44 WIB

Benarkah Jambi Sudah Memiliki Tiga Kerajaan Sejak Abad ke-3? 

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh: Mohammad Basyir Zubair (Embas)

JAMBI, http://Eksisjambi.com  –  Sebelum nama Melayu dan Sriwijaya dikenal luas dalam sejarah Nusantara, sejumlah tulisan populer kerap menyebut Jambi telah memiliki tiga kerajaan kuno sejak abad ke-3 hingga ke-5 Masehi, yakni Koying, Tupo, dan Kantoli. Klaim ini bahkan sering dijadikan dasar bahwa Jambi merupakan salah satu wilayah dengan tradisi kerajaan paling awal di Indonesia.

Namun, jika ditelusuri ke sumber-sumber akademik yang menjadi rujukannya, gambaran tersebut ternyata tidak sesederhana narasi populer yang beredar. Bahkan para sejarawan yang paling sering dikutip mengakui bahwa lokasi ketiga kerajaan tersebut masih diperdebatkan, sementara hubungan mereka dengan Kerajaan Melayu yang muncul kemudian belum dapat dipastikan secara ilmiah.

Klaim “Kerajaan Tertua” yang Kerap Diulang

Setelah pembahasan mengenai Sriwijaya di Jambi melalui Kompleks Percandian Muaro Jambi dan Prasasti Karang Berahi, muncul pertanyaan mengenai sejarah wilayah ini sebelum kemunculan Sriwijaya.

Jawaban yang paling sering muncul adalah keberadaan tiga kerajaan kuno, yaitu Koying, Tupo, dan Kantoli. Ketiganya disebut dalam sejumlah catatan Tiongkok kuno dan kerap dianggap sebagai cikal bakal Kerajaan Melayu.

Rujukan yang paling sering digunakan adalah makalah S. Sartono berjudul Kerajaan Melayu Kuno Pra-Sriwijaya di Sumatera, yang dipresentasikan dalam Seminar Sejarah Melayu Kuno di Jambi pada 7–8 Desember 1992.

Namun perlu dicatat, karya tersebut merupakan makalah seminar, bukan artikel jurnal yang telah melalui proses telaah sejawat (peer review) internasional. Perbedaan jenis publikasi ini penting dipahami karena memengaruhi tingkat kekuatan akademiknya.

Koying: Lokasinya Masih Menjadi Perdebatan

Koying merupakan nama kerajaan yang pertama kali muncul dalam catatan K’ang-tai dan Wan-chen pada masa Dinasti Wu (222–280 M).

Menurut rekonstruksi S. Sartono, Koying diperkirakan berada di kawasan Bukit Barisan Sumatra Tengah sebelum bergeser ke Muara Tebo dan Kuala Tungkal akibat perubahan kondisi pesisir.

Namun sumber-sumber Tiongkok lain justru memberi kemungkinan berbeda. Beberapa peneliti memperkirakan Koying berada di wilayah Indonesia bagian barat secara umum, bahkan ada yang menempatkannya di Semenanjung Malaka.

Artinya, hingga kini belum ada kesepakatan ilmiah yang memastikan Koying benar-benar berada di Jambi.

Baca Juga :  Patroli Gabungan PoldaPastikan Kota Jambi Aman dan Kondusif

Tupo: Bukti Historis Sangat Terbatas

Di antara ketiga kerajaan tersebut, Tupo merupakan yang paling sedikit meninggalkan informasi.

Sebagian sejarawan menghubungkannya dengan wilayah Tebo di Provinsi Jambi saat ini, sementara pendapat lain menganggap Tupo hanyalah pelabuhan milik Koying.

Namun seluruh identifikasi tersebut masih berupa hipotesis. Tidak ditemukan bukti tekstual maupun arkeologis yang secara tegas menyatakan lokasi ataupun status politik Tupo.

Kantoli: Catatan Diplomatik Lebih Lengkap, Lokasi Tetap Misterius

Berbeda dengan Koying dan Tupo, Kantoli atau Kandali memiliki catatan diplomatik yang relatif lebih rinci dalam sumber Tiongkok.

Utusan pertamanya bernama Taruda dikirim oleh Raja Sa-pa-la-na-lin-da pada masa Kaisar Hsiau-Wu (459–464 M). Hubungan diplomatik kemudian berlanjut pada tahun 502, 519, dan 520 M pada masa Dinasti Liang.

Meski demikian, sumber sejarah yang sama juga mengakui bahwa lokasi Kantoli belum dapat dipastikan.

Empat Kandidat Lokasi Kantoli

Para ahli mengemukakan sedikitnya empat kemungkinan lokasi Kantoli, yaitu:

Pantai timur Sumatra di sekitar Jambi atau Kuala Tungkal.

Thailand Selatan, menurut J.J. Boeles.

Palembang, menurut O.W. Wolters.

Singkil atau Kendari, menurut G. Ferrand dan W.J. Obdeyn.

Hingga kini belum ditemukan prasasti, artefak, maupun struktur bangunan di Jambi yang secara eksplisit menyebut atau membuktikan keberadaan Kantoli.

Hubungan dengan Kerajaan Melayu Belum Terbukti

Fakta menarik justru muncul dari sumber akademik yang sering digunakan untuk mendukung narasi tersebut.

Dalam jurnal Kerajaan Melayu Kuno: Tinjauan Sejarah Jambi Hingga Abad 13, Arif Rahim menyatakan bahwa hubungan antara Koying, Tupo, Kantoli, dan Kerajaan Melayu tidak diketahui secara jelas.

Para ahli hanya mencoba merekonstruksi bahwa Tupo kemungkinan merupakan pelabuhan Koying dan bahwa Kantoli kemudian digantikan oleh Melayu berdasarkan urutan kronologi catatan diplomatik Tiongkok.

Dengan kata lain, rangkaian Koying–Tupo–Kantoli–Melayu bukanlah fakta sejarah yang telah dibuktikan secara langsung, melainkan hasil rekonstruksi ilmiah berdasarkan kesamaan wilayah dan urutan waktu.

Kronologi Melayu dan Sriwijaya Juga Tidak Selalu Konsisten

Perbedaan penafsiran juga terlihat pada masa berakhirnya Kerajaan Melayu akibat ekspansi Sriwijaya.

Baca Juga :  Jaringan Internet di Kota Sungai Penuh Hilang, Warga Resah

Dalam tulisan Arif Rahim sendiri terdapat penyebutan tahun 683 M, sementara bagian lain menyebut 685 M.

Selisih dua tahun memang kecil, tetapi menunjukkan bahwa kronologi sejarah kuno Sumatra masih menyisakan sejumlah perbedaan interpretasi di kalangan peneliti.

Kerajaan Melayu Memiliki Dasar Historis Lebih Kuat

Jika dibandingkan tiga kerajaan sebelumnya, Kerajaan Melayu abad ke-7 memiliki landasan sejarah yang lebih kuat.

Kerajaan ini tercatat mengirim utusan ke Dinasti Tang pada tahun 644–645 M dan disebut secara langsung dalam catatan perjalanan biksu Tiongkok I-Tsing.

Sebagian besar sejarawan menempatkan pusat kerajaan tersebut di sekitar kawasan Kota Jambi dan Sungai Batanghari.

Meski demikian, identifikasi lokasi Melayu pun masih menjadi bahan diskusi di kalangan arkeolog dan sejarawan Indonesia.

Keberadaan Koying, Tupo, dan Kantoli bukanlah cerita fiktif. Nama-nama tersebut memang tercatat dalam dokumen sejarah Tiongkok kuno yang menjadi sumber penting bagi sejarah Asia Tenggara.

Mengubah pernyataan “kemungkinan berlokasi di sekitar Jambi” menjadi “terbukti sebagai kerajaan tertua di Nusantara yang berpusat di Jambi” merupakan lompatan kesimpulan yang belum didukung bukti arkeologis maupun sumber primer yang eksplisit.

Penelitian arkeologi yang lebih intensif di kawasan Tebo dan Kuala Tungkal dinilai menjadi langkah penting untuk menjawab perdebatan tersebut.

Penemuan prasasti, artefak, permukiman, atau struktur bangunan dari abad ke-3 hingga ke-6 Masehi berpotensi memperkuat identifikasi lokasi Koying, Tupo, maupun Kantoli sehingga diskusi tidak lagi hanya bertumpu pada interpretasi catatan Tiongkok.

Sampai bukti material tersebut ditemukan, ketiga kerajaan tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari hipotesis sejarah yang masih terus dikaji, bukan sebagai fakta yang telah selesai dipastikan.

  • Sartono, S. (1992). Kerajaan Melayu Kuno Pra-Sriwijaya di Sumatera. Makalah Seminar Sejarah Melayu Kuno, Jambi.
  • Rahim, A. Kerajaan Melayu Kuno: Tinjauan Sejarah Jambi Hingga Abad 13. Jurnal Ilmiah Dikdaya, Universitas Batanghari.
  • Rahim, A. Melayu dan Sriwijaya: Tinjauan Tentang Hubungan Kerajaan-kerajaan di Sumatera pada Zaman Kuno.
  • Coedès, George. Kedatuan Sriwijaya. Komunitas Bambu.
  • O.W. Wolters, kajian mengenai identifikasi Kantoli.*

Share :

Baca Juga

Daerah

PLTP Muara Laboh II Senilai 8,2  T Resmi Dibangun, Langkah Nyata Energi Terbarukan
kode redeem Blox Fruits Terbaru

Daerah

Daftar Kode Redeem Refund Stats Blox Fruits Terbaru 11 Maret 2026

Advertorial

73 Kades dan BPD Se – Kabupaten Tanjab Timur Dilantik. Ini Pesan Bupati Romi
H. Anwar Sadat

Daerah

Awali Tahun 2026, Bupati Anwar Sadat Jadi Khatib Salat Jumat

Advertorial

Ketua DPRD Lendra Ikuti Apel Pengaman Kunker Presiden Jokowi an

Daerah

Misteri Danau Kaco Kerinci Berwarna Biru Menyala

Advertorial

Gubernur Jambi Al Haris Upayakan Pemerataan Dokter Spesialis di Jambi

Daerah

KASUS COVID-19 MENINGKAT, PEMKAB KERINCI KEMBALI MENUTUP OBJEK WISATA