Home / Artikel / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Minggu, 26 Juli 2026 - 09:31 WIB

Candi Muaro Jambi, “Universitas Tertua Asia Tenggara”?

Oplus_131072

Oplus_131072

Jambi, http://Eksisjambi.com –  Kompleks Percandian Muaro Jambi merupakan salah satu peninggalan sejarah terbesar di Indonesia yang menyimpan jejak peradaban Buddha masa lampau. Berada di tepian Sungai Batanghari, kawasan ini kerap disebut sebagai “universitas tertua di Asia Tenggara”, bahkan diklaim lebih tua dari Universitas Bologna di Italia.

Namun, di balik kebanggaan tersebut, terdapat sejumlah aspek sejarah yang masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog dan sejarawan. Kebesaran Muaro Jambi tidak diragukan, tetapi sejumlah klaim populer mengenai fungsi, usia, hingga keterkaitannya dengan catatan perjalanan biksu Tiongkok I-Tsing masih membutuhkan kajian lebih mendalam.

Artikel ini mencoba memisahkan antara fakta yang telah disepakati secara ilmiah dengan interpretasi sejarah yang masih terbuka untuk penelitian.

Kompleks Percandian Muaro Jambi, Situs Besar di Tepian Batanghari

Kompleks Percandian Muaro Jambi terletak sekitar 26 kilometer dari Kota Jambi. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu kompleks percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara.

Bentang situsnya membujur sekitar 7,5 kilometer dari barat ke timur dan mencakup wilayah di beberapa desa. Di dalam kawasan tersebut terdapat puluhan hingga sekitar 70 gundukan tanah kuno atau menapo, yang diyakini menyimpan struktur bangunan bata peninggalan masa lalu.

Beberapa bangunan yang telah dipugar dan dapat dikunjungi masyarakat antara lain:

  • Candi Gumpung
  • Candi Kedaton
  • Candi Kota Mahligai
  • Candi Kembar Batu
  • Candi Gedong Satu dan Dua
  • Telago Rajo

Berdasarkan penelitian arkeologi, kawasan ini berkembang secara bertahap antara abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi.

Keberadaan Muaro Jambi mulai dikenal dunia modern setelah laporan seorang perwira Inggris, S.C. Crooke, yang melakukan perjalanan menyusuri wilayah pedalaman Sungai Batanghari pada dekade 1820-an.

Secara fisik dan arkeologis, Muaro Jambi merupakan situs yang sangat penting bagi sejarah Sumatra dan Asia Tenggara.

Perbedaan Data Luas Kawasan dan Jumlah Menapo

Meski penting secara sejarah, sejumlah data mengenai kawasan Muaro Jambi masih ditemukan dalam angka yang berbeda.

Beberapa sumber menyebut luas kawasan sekitar 3.891 hektare, sementara sumber lain mencantumkan 3.981 hektare. Perbedaan sekitar 90 hektare tersebut kemungkinan berasal dari metode survei, perubahan batas kawasan, atau pembaruan data penelitian.

Hal serupa terjadi pada jumlah menapo. Sebagian sumber menyebut jumlahnya mencapai puluhan, sedangkan sumber lain mencatat sedikitnya sekitar 70 menapo.

Perbedaan angka tersebut bukan berarti menunjukkan kesalahan penelitian, melainkan perlu dilihat berdasarkan sumber, tahun survei, dan metode penghitungan yang digunakan.

Karena itu, data mengenai luas kawasan dan jumlah struktur kuno idealnya merujuk pada laporan penelitian resmi terbaru dari lembaga arkeologi terkait.

Baca Juga :  Beredar Foto Kantor Bupati Bekasi Disegel KPK, Warganet Geger

Benarkah Muaro Jambi Universitas Tertua di Asia Tenggara?

Salah satu klaim paling populer mengenai Muaro Jambi adalah penyebutannya sebagai “universitas tertua di Indonesia dan salah satu yang tertua di Asia Tenggara”.

Klaim tersebut muncul berdasarkan penelitian yang menyebut Muaro Jambi sebagai mahavihara, yaitu kompleks vihara besar yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran agama Buddha.

Pandangan ini salah satunya dikemukakan oleh Agus Widiatmoko, mantan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, yang juga menulis disertasi berjudul:

“Situs Muarajambi sebagai Mahavihara Abad ke-7–12 Masehi”

(Program Studi Arkeologi Universitas Indonesia, 2015).

Penelitian tersebut menemukan indikasi bahwa kawasan tertentu, terutama Candi Kedaton, memiliki pola ruang yang mendukung fungsi pendidikan keagamaan.

Temuan berupa halaman berpagar, sumur, struktur bangunan, serta artefak seperti kuali dan pecahan keramik menunjukkan adanya aktivitas kehidupan komunitas besar.

Peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, Retno Purwanti, juga menyebut kawasan tersebut memiliki ciri sebagai kompleks vihara.

Namun, Istilah “Universitas” Masih Perlu Dilihat Secara Kontekstual

Meski memiliki fungsi pendidikan, penyebutan Muaro Jambi sebagai “universitas” perlu dipahami secara hati-hati.

Universitas Bologna yang berdiri pada 1088 Masehi merupakan lembaga pendidikan dengan sistem hukum, organisasi akademik, dan struktur kelembagaan formal.

Sementara Muaro Jambi merupakan kompleks mahavihara yang fungsi pendidikannya disimpulkan melalui bukti arkeologis dan tata ruang, bukan berdasarkan dokumen pendirian seperti lembaga pendidikan modern.

Artinya, Muaro Jambi memang kemungkinan besar menjadi pusat pembelajaran agama Buddha dan ilmu pengetahuan pada masanya, tetapi menyamakannya secara langsung dengan universitas modern merupakan perbandingan yang memiliki perbedaan konsep.

Pertanyaan Besar: Apakah Muaro Jambi adalah Tempat yang Dikunjungi I-Tsing?

Salah satu dasar utama klaim “universitas tertua” berkaitan dengan perjalanan biksu asal Tiongkok, I-Tsing (Yijing), pada abad ke-7 Masehi.

Dalam catatan perjalanannya, I-Tsing menyebut pernah singgah di wilayah yang dikenal sebagai Mo-lo-yeu atau Melayu untuk mempelajari bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha.

Ia juga mencatat adanya pusat pembelajaran Buddha dengan ribuan biksu.

Apakah pusat pembelajaran yang disebut I-Tsing tersebut benar-benar berada di lokasi Candi Muaro Jambi saat ini? Jawabannya belum sepenuhnya final.

Sejumlah sejarawan dan arkeolog memiliki pandangan berbeda mengenai lokasi Melayu yang disebut I-Tsing.

Sebagian menghubungkannya dengan wilayah Jambi, sementara sebagian lain mengaitkannya dengan kawasan Semenanjung Melayu seperti Kedah.

Baca Juga :  Gua Tiangko Panjang: Hunian Prasejarah Tertua Jambi yang Angkanya Tak Pernah Sama Dua Kali

Retno Purwanti menyebut persoalan tersebut memiliki kemiripan dengan perdebatan mengenai pusat Kerajaan Sriwijaya, apakah berada di Jambi atau Palembang.

Kajian berdasarkan perhitungan astronomi dari catatan perjalanan I-Tsing juga menghasilkan beberapa kemungkinan lokasi, mulai dari sekitar Palembang hingga wilayah Kuala Tungkal, Jambi.

Dengan demikian, hubungan antara Muaro Jambi dan pusat pendidikan yang dikunjungi I-Tsing merupakan hipotesis kuat yang didukung sejumlah bukti, tetapi belum menjadi fakta yang sepenuhnya terbuktikan melalui prasasti penamaan lokasi.

Candi Muaro Jambi Belum Berstatus Warisan Dunia UNESCO

Selain klaim universitas tertua, muncul pula anggapan bahwa Candi Muaro Jambi telah menjadi situs Warisan Dunia UNESCO.

Faktanya, hingga kini Muaro Jambi belum memperoleh status tersebut.

Situs ini memang telah lama di perjuangkan untuk masuk daftar Warisan Dunia UNESCO karena nilai sejarah dan kebudayaannya yang sangat tinggi.

Budayawan Jambi Ja’far Rasyu menyebut Muaro Jambi memiliki kelayakan besar untuk diajukan sebagai warisan dunia, tetapi masih membutuhkan berbagai persyaratan teknis dan administratif.

Artinya, Muaro Jambi saat ini merupakan kandidat atau aspirasi menuju UNESCO, bukan situs yang sudah resmi di tetapkan.

Terlepas dari berbagai perdebatan, Candi Muaro Jambi tetap merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga.

Keunggulannya tidak hanya terletak pada klaim sebagai “universitas tertua”, tetapi pada fakta bahwa kawasan ini merupakan:

  • Salah satu kompleks percandian terluas di Asia Tenggara.
  • Bukti berkembangnya agama Buddha di Sumatra.
  • Jejak jaringan intelektual yang menghubungkan Sumatra dengan pusat pembelajaran Asia seperti Nalanda.

Bukti kemampuan arsitektur masyarakat masa lalu dalam membangun struktur bata yang mampu bertahan lebih dari seribu tahun.

Yang terpenting adalah bagaimana sejarah Muaro Jambi disampaikan secara akurat.

Antara fakta dan kebanggaan harus berjalan bersama, tanpa mengabaikan proses penelitian ilmiah yang masih berlangsung.

Candi Muaro Jambi adalah warisan peradaban besar yang tidak membutuhkan klaim berlebihan untuk menunjukkan nilainya.

Fakta yang telah kuat adalah kawasan ini merupakan kompleks percandian Buddha besar dari abad ke-7 hingga ke-12 Masehi dengan kemungkinan fungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan.

Sementara klaim bahwa Muaro Jambi merupakan “universitas tertua di Asia Tenggara” dan lokasi pasti mahavihara I-Tsing masih menjadi bagian dari diskusi ilmiah yang terus berkembang.

Sejarah besar tidak hanya dibangun oleh kebanggaan, tetapi juga oleh ketelitian dalam membaca bukti.

Penulis: Mohammad Basyir Zubair (EMBAS)*

Share :

Baca Juga

Advertorial

Bupati Tanjab Barat Safari Subuh Di Mesjid Asy Syuhada Kelurahan Tungkal IV Kota

Advertorial

Pemprov Kembali Luncurkan Beasiswa Pro-Jambi

Nasional

Pemprov Jambi Klarifikasi Isu Rekrutmen PNS, Masyarakat Diminta Waspada Penipuan

Daerah

Telkomsel Hapus Aturan “Kuota Hangus”, Sisa Data Kini Bisa Diakumulasi
Menkeu Purbaya

Daerah

Menkeu Bongkar Uang Negara Rp285,6 Triliun Nganggur di Deposito

Daerah

Satresnarkoba Polres Kerinci Gagalkan Peredaran Sabu Jaringan Antar-Provinsi

News

Bamus DPRD Kota Sungai Penuh laksanakan Penjadwalan Kegiatan DPRD Kota Sungai Penuh
DPD Tani Mardeka Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci

Internasional

Pengurus DPD Tani Mardeka Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci Periode 2025 – 2030 Resmi di Kukuhkan