Eksisjambi.com,Merangin- Aksi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah mahasiswa di Kabupaten Merangin kembali menjadi perbincangan publik, pada Selasa (10/6/2025).
Meski jumlah peserta terbilang tidak besar, gaungnya tetap menggema, terutama di media sosial. Komentar publik pun terbagi,ada yang mempertanyakan skala aksi, ada pula yang menyindir, “Itu-itu saja orangnya, cuma 10 orang.”
Namun, di balik polemik jumlah peserta, ada hal yang jauh lebih penting untuk disorot: substansi tuntutan.
Dalam iklim demokrasi yang kian menyempit dan meningkatnya apatisme publik, keberanian mahasiswa turun ke jalan justru menjadi tanda bahwa kontrol sosial belum sepenuhnya lumpuh. Mereka hadir dengan suara lantang dan tuntutan konkret terhadap kebijakan pemerintah daerah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
Setidaknya, ada empat tuntutan utama yang disuarakan dalam aksi tersebut:
1. Membatalkan rencana pembelian mobil dinas baru di tengah kondisi anggaran daerah yang disebut sedang dalam masa efisiensi.
2. Menindak tegas aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang merusak lingkungan dan berpotensi merugikan masyarakat.
3. Menertibkan tempat-tempat hiburan malam dan penyakit masyarakat (pekat) yang dianggap makin marak tanpa pengawasan jelas.
4. Memberikan solusi konkret serta keringanan bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang selama ini seringkali terpinggirkan dalam kebijakan penataan kota.
Tuntutan ini bukan sekadar orasi kosong. Mahasiswa menuntut tindakan nyata dari pemerintah, bukan janji manis dalam seremonial belaka.
“Bukan ramai atau tidaknya massa yang jadi ukuran keberhasilan, tapi keberanian menyuarakan hal yang penting di tengah kesunyian moral banyak pihak,” ujar salah satu koordinator aksi.
Pengamat sosial lokal pun mengapresiasi aksi ini sebagai bentuk kontrol sipil yang sehat. Ia menilai bahwa ketimbang mencibir jumlah peserta, publik seharusnya lebih fokus pada isi dari perjuangan yang dibawa.
“Gerakan mahasiswa memang tidak sempurna, tapi kalau kita lebih sibuk mengejek daripada mendengarkan isi tuntutan mereka, bisa jadi yang perlu dikritik bukan hanya pemerintah, tapi juga cara kita sebagai masyarakat memaknai perjuangan,” katanya.
Aksi ini mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu datang dalam keramaian. Terkadang, suara-suara kecil yang konsisten justru membawa perubahan lebih nyata daripada sorakan massa yang tak tahu arah. Dan dalam konteks Merangin hari ini, mahasiswa sekali lagi menunjukkan bahwa suara rakyat masih ada, meski hanya datang dari segelintir yang berani.(*)







