JAKARTA – Industri pertahanan nasional kembali mencatat tonggak penting. PT Sari Bahari, perusahaan pertahanan asal Malang, resmi memperkenalkan B250ST (Sayap Terbang) dalam ajang Indo Defence Expo & Forum yang di gelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Produk terbaru ini merupakan smart kit yang di rancang untuk mengubah bom konvensional menjadi precision-guided munition (PGM) atau bom pintar yang Di lengkapi dengan sistem navigasi GNSS/INS, B250ST mampu mencapai tingkat akurasi tinggi dalam setiap misi serangan udara.
B250ST memiliki akurasi Circular Error Probable (CEP) hingga 3 meter dan dapat diluncurkan dari jarak 50 hingga 70 kilometer.
Dengan kemampuan operasi di ketinggian hingga 15 kilometer, bom ini tetap efektif di berbagai kondisi, dari suhu -30°C hingga +60°C.
Secara fisik, B250ST memiliki berat 330–350 kilogram, panjang 2.490 milimeter, dan lebar sayap 2.995 milimeter. Bom ini juga kompatibel dengan pesawat standar NATO dan Rusia, sehingga fleksibel di gunakan di berbagai platform pesawat militer.
B250ST di kembangkan melalui kerja sama antara PT Sari Bahari dan mitra dari Uni Emirat Arab (UEA).
Proyek ini menargetkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 60 persen, sejalan dengan program pemerintah untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri.
PT Sari Bahari memastikan bahwa produk ini akan menjalani uji coba resmi bersama TNI Angkatan Udara dan Kementerian Pertahanan, sebelum di operasikan penuh pada tahun 2026.
Setelah melalui proses sertifikasi, B250ST juga berpotensi di ekspor ke negara-negara sahabat yang menggunakan sistem persenjataan kompatibel.
Direktur PT Sari Bahari menyebut bahwa B250ST adalah simbol kemajuan teknologi pertahanan Indonesia.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bangsa ini mampu membuat produk berteknologi tinggi yang efisien dan presisi.
B250ST menjadi bukti kemampuan anak bangsa dalam mendukung kemandirian alutsista nasional,” ujarnya
Peluncuran ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia di kancah industri pertahanan global, dengan kemampuan menghasilkan produk militer berstandar internasional namun memiliki komponen lokal yang kuat.(*)







