Home / Artikel / Daerah / Internasional / Nasional / Nasional / News

Kamis, 4 September 2025 - 16:00 WIB

Kisah Perayaan Maulid Nabi Dari Bid‘ah Hingga Tradisi

Maulid Nabi Muhammad Saw

Maulid Nabi Muhammad Saw

Penulis : al-Habib asy-Syaikh Alwi bin Abdil Qadir as-Saqqaf hafizhahullah ta’ala

Eksisjambi.com – Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjadi salah satu momen besar dalam kalender umat Islam di berbagai belahan dunia. Namun, jika menilik jejak sejarahnya, peringatan ini bukanlah tradisi yang dilakukan pada masa Rasulullah maupun generasi awal Islam.

Menurut catatan sejarah, sahabat Nabi, para tabi‘in, dan ulama besar generasi setelahnya tidak mengenal perayaan Maulid. Nama-nama besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi‘i, Imam Ahmad, bahkan para ahli hadits seperti Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, tidak pernah meriwayatkan adanya tradisi tersebut.

Sejarawan Islam menyebutkan bahwa perayaan Maulid pertama kali muncul pada abad ke-4 Hijriah, diperkenalkan oleh kelompok Syiah Rafidhah al-‘Ubaidiyyun. Mereka bukan hanya memperingati kelahiran Nabi, melainkan juga mengadakan berbagai maulid lain, seperti maulid ‘Ali, Fathimah, Hasan, hingga Husain. Jumlahnya bahkan mencapai 27 perayaan.

Baca Juga :  Ini Alasan Kadis Khaidirman Menolak Menandatangani Piagam Peserta Atlet

Catatan ini diabadikan oleh al-Maqrizi dalam karyanya al-Khithath. Namun, seluruh tradisi tersebut lenyap setelah runtuhnya Dinasti ‘Ubaidiyyah pada tahun 567 H oleh Shalahuddin al-Ayyubi.

Seiring waktu, sebagian pihak berusaha mengaitkan perayaan Maulid dengan penguasa Irbil, Raja al-Muzaffar Abu Sa‘id Kaukabri (wafat 630 H). Imam Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidāyah wa an-Nihāyah memang menyebut bahwa sang raja kerap menggelar perayaan besar pada bulan Rabi‘ul Awwal. Namun, tidak ada pernyataan bahwa dialah orang pertama yang mengadakannya.

Fakta lain yang juga menjadi perdebatan adalah kepastian tanggal lahir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Mayoritas sejarawan justru menegaskan bahwa 12 Rabi‘ul Awwal adalah hari wafatnya Rasulullah, bukan hari kelahiran beliau.

Seiring berkembangnya waktu, perayaan Maulid menyebar ke berbagai negeri Islam. Sebagian ulama menilai ada sisi positif karena di dalamnya disampaikan kisah perjalanan hidup Rasulullah. Namun, tidak sedikit pula ulama yang menolak karena menganggap tradisi ini tidak memiliki dasar pada abad-abad awal Islam.

Baca Juga :  Update  Kode Redeem Roblox Global Terbaru 27 Juni 2026

Dalam praktiknya, perayaan Maulid di sejumlah daerah juga diwarnai dengan beragam kegiatan tambahan, mulai dari tabuhan rebana, pembacaan qasidah, hingga acara-acara yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. Hal inilah yang memunculkan perbedaan pandangan di kalangan umat Islam, antara yang melihatnya sebagai sarana syiar dan yang menganggapnya sebagai bentuk bid‘ah.

Perayaan Maulid Nabi hingga kini tetap menjadi bagian dari dinamika umat Islam. Di satu sisi, ia dianggap sebagai momen mempertebal cinta kepada Rasulullah. Di sisi lain, ia masih menyimpan kontroversi panjang mengenai asal-usul dan keabsahannya dalam ajaran Islam.(*)

 

Share :

Baca Juga

Advertorial

Paripurna III Masa Persidangan II DPRD Kota Sungai Penuh Tahun 2023

Daerah

Bupati H. Adirozal Resmi Lepas Keberangkatan 121 CJH Kabupaten Kerinci

Advertorial

Gubernur Jambi Apresiasi Tradisi Sedekah Payo Turun Ke Sawah
LDK MAN 1 Sungai Penuh,

Daerah

Wawako Azhar Hamzah Hadiri dan Apresiasi LDK MAN 1 Sungai Penuh
iPhone Air

Daerah

iPhone Air Resmi Meluncur Jadi Tertipis Sepanjang Sejarah dengan Ketebalan Hanya 5,6 mm

Advertorial

Gubernur Al Haris Harap Undang-Undang Yang Direvisi Berpihak Kepada Guru

Advertorial

Peduli Pendidikan, Mahasiswa Jambi di Pulau Jawa Sepakat Dukung Al Haris Lanjutkan Jambi Mantap

Bangko

Dandim 0420/Sarko Sampaikan Amanat Pangdam XX/TIB