Religi, http://Eksisjambi.com – Kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir menjadi pelajaran abadi tentang kesabaran, ilmu ilahi, dan rahasia takdir Allah yang tak selalu bisa dipahami manusia.
Di suatu masa ketika cahaya ilmu Nabi Musa ‘alaihissalam telah menerangi Bani Israil, terucap sebuah jawaban yang menjadi awal dari perjalanan besar penuh hikmah. Saat ditanya siapa manusia paling berilmu di muka bumi, Nabi Musa menjawab sesuai pengetahuannya bahwa dialah orangnya.
Namun Allah ﷻ, Yang Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, hendak mengajarkan pelajaran yang jauh lebih dalam: bahwa di atas setiap ilmu, masih ada ilmu lain yang hanya Dia kehendaki.
Allah ﷻ pun memberi tahu Nabi Musa tentang seorang hamba saleh yang dianugerahi ilmu khusus ilmu laduni yang tidak tertulis dalam kitab, tidak diajarkan di majelis, dan tidak dapat dijangkau semata-mata oleh akal. Hamba itu adalah Nabi Khidir.
Maka di mulailah perjalanan panjang Nabi Musa bersama murid setianya, Yusya’ bin Nun. Mereka menempuh perjalanan hingga ke pertemuan dua lautan, tempat di mana seekor ikan yang telah mati hidup kembali dan melompat ke laut tanda yang telah Allah tetapkan.
Di sanalah Nabi Musa bertemu dengan seorang lelaki berwajah tenang, bertatapan dalam, dan berucap lembut namun penuh wibawa. Dialah Nabi Khidir.
Dengan penuh adab, Nabi Musa berkata,
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?”
Khidir menjawab dengan tenang,
“Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.”
Nabi Musa pun berjanji akan bersabar dan tidak membantah. Namun Khidir menetapkan satu syarat,
“Jika engkau mengikutiku, jangan bertanya apa pun sebelum aku menjelaskannya.”
Tiga Ujian Kesabaran Nabi Musa
- Ujian Pertama: Perahu yang Dilubangi
Mereka menaiki perahu milik orang-orang miskin yang dengan ikhlas menolong mereka. Tanpa penjelasan, Khidir melubangi perahu itu hingga air mulai masuk.
Nabi Musa terkejut dan berkata,
“Mengapa engkau melubangi perahu ini? Apakah engkau hendak menenggelamkan penumpangnya?”
Khidir hanya mengingatkan janjinya. Nabi Musa pun menyesal dan memohon maaf.
- Ujian Kedua: Anak Kecil yang Dibunuh
Dalam perjalanan berikutnya, Khidir membunuh seorang anak kecil. Nabi Musa kembali tak sanggup menahan diri.
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang tidak bersalah?”
Khidir kembali mengingatkan kesepakatan mereka. Hati Nabi Musa semakin gelisah, namun ia tetap melanjutkan perjalanan.
- Ujian Ketiga: Tembok yang Ditegakkan
Mereka tiba di sebuah desa yang penduduknya pelit dan enggan menjamu tamu. Di sana, Khidir menegakkan sebuah tembok yang hampir roboh tanpa meminta upah.
Nabi Musa berkata,
“Seandainya engkau mau, engkau bisa meminta upah atas pekerjaan ini.”
Saat itulah Khidir berkata,
“Inilah perpisahan antara aku dan engkau. Akan aku jelaskan apa yang tidak sanggup engkau sabari.”
Khidir kemudian menjelaskan rahasia di balik setiap perbuatannya:
- Perahu itu dilubangi karena di hadapan mereka ada raja zalim yang merampas setiap perahu yang bagus. Kerusakan kecil itu justru menyelamatkan pemiliknya dari kehilangan segalanya.
- Anak kecil itu dibunuh karena kelak ia akan menyesatkan kedua orang tuanya yang beriman. Allah hendak menggantinya dengan anak yang lebih baik dan penuh kasih sayang.
- Tembok itu ditegakkan karena di bawahnya tersimpan harta milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang saleh, dan Allah menjaga harta itu hingga mereka dewasa.
Khidir menutup penjelasannya dengan kalimat yang mengguncang jiwa,
“Aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri. Semua ini adalah perintah Allah.”
Pelajaran Abadi Sepanjang Zaman
Nabi Musa terdiam. Seorang nabi besar, pembawa kitab, diajarkan bahwa tidak semua takdir Allah bisa dipahami saat ini. Ada luka yang ternyata penyelamat. Ada kehilangan yang justru penjagaan. Ada peristiwa yang tampak tidak adil, namun menyimpan rahmat yang dalam.
Nabi Khidir pun pergi, meninggalkan pelajaran abadi bagi seluruh umat manusia:
- Apa yang kita benci hari ini bisa jadi adalah perlindungan Allah.
- Dan apa yang kita anggap baik, bisa jadi ujian yang tersembunyi.
- Allah ﷻ tidak pernah salah menulis takdir.
Yang sering keliru hanyalah kesabaran manusia dalam menunggu penjelasan-Nya.**







