PADANG, http://Eksisjambi.com – Penjual kopi dengan berbagai konsep kini sangat mudah di temui, mulai dari gerobak sederhana, sepeda motor, hingga mobil keliling. Di tengah maraknya usaha kopi kekinian tersebut, hadir sebuah inisiatif unik di Sumatera Barat yang memadukan bisnis kuliner dengan misi sosial.
Salah satunya adalah Kopi Rakyat, unit usaha yang di inisiasi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang. Berbeda dari usaha kopi pada umumnya, Kopi Rakyat mengusung misi sosial, di mana hasil penjualannya di gunakan untuk mendukung pembiayaan pendampingan hukum bagi masyarakat yang kerap terpinggirkan dari akses keadilan.
Sumatera Barat yang di kenal kaya akan potensi ekowisata dan kreativitas masyarakatnya, menjadi lahan subur bagi berkembangnya ide-ide inovatif di sektor perdagangan kuliner.
Kopi Rakyat hadir sebagai contoh nyata kreativitas tersebut, sekaligus memperkuat kemandirian lembaga bantuan hukum.
Direktur LBH Padang, Diki Rafiqi, mengatakan Kopi Rakyat merupakan bagian dari upaya lembaga dalam mengembangkan sumber pendanaan alternatif yang sah, transparan, dan akuntabel.
“LBH Padang perlu mengembangkan sumber-sumber pendanaan alternatif yang sah, transparan, dan akuntabel. Salah satu langkah strategis yang di tempuh adalah melalui pembentukan dan pengelolaan unit usaha yang di jalankan berdasarkan prinsip-prinsip nirlaba, profesionalitas, serta non-konflik kepentingan,” ujar Diki.
LBH Padang sendiri di kenal sebagai lembaga yang memberikan bantuan hukum dan memperjuangkan hak-hak rakyat miskin, masyarakat buta hukum, serta korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Usaha Kopi Rakyat resmi di luncurkan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 LBH , Sejak Rabu (21/1/2026), sebuah gerobak berwarna kuning dengan sepeda motor listrik mulai beroperasi dan berjualan di sejumlah ruas jalan di Kota Padang.
Untuk tahap awal, Kopi Rakyat menawarkan dua menu, yakni kopi susu dan kopi aren, dengan harga terjangkau.
“Harganya Rp12 ribu per cup, untuk sementara ada dua menu, kopi susu dan kopi aren,” jelas Diki.
Menurutnya, tujuan utama pendirian Kopi Rakyat bukan semata mengejar keuntungan finansial dalam jangka pendek, melainkan membangun fondasi usaha yang sehat dan berkelanjutan.
“Yang terpenting bukan semata besaran hasil finansial saat ini, melainkan keberanian untuk memulai, membangun tata kelola usaha yang sehat, serta menanamkan budaya keberlanjutan sebagai bagian integral dari perjuangan bantuan hukum struktural,” ungkapnya.
Diki menambahkan, pengembangan unit usaha ini di latarbelakangi oleh kondisi eksternal yang semakin menantang bagi organisasi masyarakat sipil, termasuk LBH. Dukungan donor yang kian terbatas, dinamika politik yang tidak menentu, serta ketidakpastian pendanaan jangka panjang menjadi tantangan serius.
“Kondisi ini menuntut adanya sumber dana agar lembaga tetap dapat menjalankan mandat advokasi dan layanan bantuan hukum secara berkesinambungan, terutama bagi kelompok masyarakat yang paling rentan dan seringkali tidak menjadi prioritas pendanaan,” pungkasnya.
Dengan hadirnya Kopi Rakyat, LBH Padang berharap dapat terus memperjuangkan akses keadilan bagi masyarakat, sekaligus mengajak publik berpartisipasi dalam gerakan solidaritas melalui secangkir kopi.**







