ATEHERAN,http://Eksisjambi.com – Memandang sosok Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, kerap di maknai oleh sebagian umat Islam sebagai simbol keteguhan iman dan konsistensi perjuangan dalam menjaga nilai-nilai Islam di tengah derasnya arus fitnah global.
Ayatullah Ali Khamenei di kenal sebagai dzurriyah Rasulullah SAW, dengan silsilah nasab yang bersambung kepada Imam Hasan al-Mujtaba bin Ali dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri tercinta Nabi Muhammad SAW. Fakta tersebut menjadi dasar spiritual bagi banyak kalangan yang memandang beliau sebagai bagian dari Ahlul Bait yang di muliakan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33).
Sejumlah tokoh dan pengamat umat menilai, narasi kebencian yang mempertentangkan Sunni dan Syiah selama ini lebih banyak di produksi oleh kepentingan elite global yang ingin melemahkan persatuan umat Islam. Perbedaan mazhab, menurut mereka, tidak semestinya di jadikan alasan untuk saling menyesatkan apalagi memusuhi.
“Mencintai Ahlul Bait bukanlah pilihan ideologis, melainkan bagian dari ketaatan terhadap wasiat Rasulullah SAW,” ungkap salah satu cendekiawan Muslim dalam kajiannya.
Ia menegaskan bahwa umat Islam, apa pun latar mazhabnya, memiliki tujuan yang sama: beribadah kepada Allah SWT dan menegakkan keadilan serta kemanusiaan. Ibadah, kekhusyukan, serta nilai kasih sayang yang di tunjukkan umat Islam dari berbagai mazhab justru sering kali memperlihatkan keindahan Islam yang sejati.
Dalam konteks sejarah dan keimanan, bangsa Persia juga memiliki tempat tersendiri dalam khazanah Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Seandainya iman berada di bintang Tsurayya, niscaya akan di raih oleh orang-orang dari bangsa Persia.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut kerap di maknai sebagai isyarat bahwa kekuatan sejati suatu bangsa tidak semata terletak pada persenjataan atau kekuasaan duniawi, melainkan pada keteguhan iman dan konsistensi moral.
Di tengah situasi global yang penuh di sinformasi dan konflik kepentingan, muncul pula pesan reflektif yang mengajak umat Islam untuk lebih jernih membaca keadaan. Salah satu pesan yang sering di kutip menyebutkan, bahwa arah panah fitnah kerap menjadi penanda medan perjuangan kebenaran.
Pesan tersebut tidak di maksudkan untuk mengkultuskan individu, melainkan sebagai ajakan agar umat Islam tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang sengaja di ciptakan untuk memecah belah persaudaraan.
Pada akhirnya, seruan utama yang di gaungkan adalah kembali kepada ukhuwah Islamiyah. Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).
Umat Islam di harapkan mampu menjadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan sumber permusuhan, serta menempatkan persatuan sebagai fondasi utama menghadapi tantangan zaman.
Semoga Allah SWT mempersatukan hati kaum Muslimin dalam kedamaian, keadilan, dan kasih sayang. Amin ya Rabbal ‘Alamin.**







