JAKARTA, – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini bukan semata persoalan penanggalan, melainkan hasil ijtihad keagamaan yang mengintegrasikan dalil syar’i dengan perhitungan ilmiah ilmu falak modern.
Keputusan tersebut dijelaskan secara mendalam oleh pakar ilmu falak Muhammadiyah, Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar Butar, S.HI., M.A, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalam tulisan ilmiah yang dipublikasikan oleh Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (OIF UMSU).
Menurut Muhammadiyah, penentuan awal Ramadan harus berpijak pada kepastian ilmiah tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip syariat Islam.
Dalam penjelasannya, Dr. Arwin menanggapi anggapan sebagian pihak yang menilai penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) tidak cermat atau bertentangan dengan dalil rukyat.
Ia menegaskan bahwa rukyat dan hisab bukanlah dua metode yang saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi.
Muhammadiyah berpandangan bahwa:
- Rukyat pada masa Nabi Muhammad ﷺ merupakan sarana paling realistis untuk mengetahui awal bulan di zamannya.
- Hisab astronomis dengan data posisi bulan dan matahari merupakan metode ilmiah yang sah dan akurat di era modern.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, hisab dinilai mampu memberikan kepastian waktu yang lebih presisi, selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Pendekatan ini sejalan dengan kaidah ushul fiqh yang memberi ruang bagi ilmu pengetahuan dalam pelaksanaan ibadah.
Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang merujuk pada hasil Muktamar Turki 2016, dengan kriteria teknis sebagai berikut:
- Ketinggian hilal minimal 5 derajat
- Elongasi bulan–matahari minimal 8 derajat
- Ijtimak (konjungsi) telah terjadi secara global
Dalam kasus Ramadan 1447 H, ijtimak global memang belum terjadi sebelum pukul 24.00 UTC di seluruh dunia. Namun Muhammadiyah menilai adanya parameter lanjutan yang telah terpenuhi.
Di antaranya:
- Ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru
- Ketinggian hilal dan elongasi memenuhi kriteria di wilayah daratan benua Amerika, termasuk Alaska
Berdasarkan data tersebut, Muhammadiyah menyimpulkan bahwa syarat dasar KHGT telah terpenuhi, sehingga 1 Ramadan 1447 H ditetapkan pada 18 Februari 2026 secara global.
Secara astronomis, di beberapa wilayah benua Amerika, khususnya Alaska dan sekitarnya, posisi bulan telah memenuhi:
- Ketinggian hilal ≥ 5°
- Elongasi ≥ 8°
Muhammadiyah menganut prinsip matlak global, yakni: Apabila di sebagian wilayah bumi hilal telah memenuhi kriteria ilmiah, maka seluruh dunia Islam memasuki bulan yang sama.
Pendekatan ini bertujuan mewujudkan keseragaman kalender Islam global serta mengatasi perbedaan waktu akibat fenomena astronomi.
Muhammadiyah juga menjelaskan bahwa dalam kalender cetak awal, 1 Ramadan 1447 H sempat tercantum pada 19 Februari 2026. Namun setelah dilakukan kajian ulang yang melibatkan:
- Pakar ilmu falak
- Ahli teknologi informasi
- Evaluasi perangkat lunak hisab
- Pembaruan data astronomi
Tanggal tersebut kemudian dikoreksi menjadi 18 Februari 2026. Koreksi ini disebut sebagai bentuk konsistensi ilmiah dan tanggung jawab metodologis dalam penetapan ibadah.
Perbedaan penetapan dengan lembaga lain, seperti Diyanet Turki atau pemerintah Indonesia, bukan disebabkan kesalahan perhitungan, melainkan perbedaan interpretasi kriteria dan wilayah perhitungan.
Muhammadiyah memasukkan wilayah Alaska sebagai daratan utama yang sah secara astronomis, sementara pihak lain memiliki pandangan berbeda terhadap wilayah kandidat hilal.
Muhammadiyah menegaskan bahwa penetapan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 merupakan hasil:
- Integrasi dalil syar’i dan ilmu falak modern
- Perhitungan astronomi yang presisi
- Prinsip kesatuan kalender Islam global
Keputusan ini tidak bersifat arbitrer, melainkan buah dari ijtihad ilmiah yang bertanggung jawab.







