Home / Advertorial / Bangko / Daerah / Nasional / Nasional / News / Peristiwa

Kamis, 24 Juli 2025 - 17:53 WIB

Merangin: Sungai yang Terluka Ekskavator

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh: Ali Prawinata, S.H., M.Η.

Merangin eksisjambi.com- Di masa lalu, ketika bulan belum kalah terang oleh lampu-lampu kota dan suara jangkrik belum tertutup bising mesin tambang, Sungai Merangin adalah ibu. la memberi makan, memberi minum, dan sesekali-emas. Tapi bukan emas yang dirampas paksa. la diambil perlahan, penuh rasa, oleh tangan-tangan yang tahu malu pada alam.

Orang-orang dulu menyebutnya mendulang. Mereka bawa dulang dari kayu, saringan dari anyaman kawat, dan harapan yang secukupnya. Tak ada ekskavator, tak ada sianida, tak ada sungai dibongkar, dibalik, disumpahi. Mereka bukan perusak, mereka pewaris. Sungai jernih, ikan baung bisa ditangkap dengan jala, dan anak-anak mandi tanpa takut limbah. Mereka tak kaya, tapi cukup. Mereka tak rakus, tapi paham batas.

Hari ini, mendulang sudah diganti dengan menambang. Kata lama itu kini dianggap kampungan, kalah tren dengan “produksi” dan “investasi”. Sungai tak lagi ibu, ia berubah jadi tambang terbuka. Airnya cokelat, baunya busuk. Jika dulu ikan ditangkap pakai tangan, sekarang pakai alat uji laboratorium: kadar racunnya, bukan gizinya.

Baca Juga :  Pemkab Kerinci Sosialisasikan Pencegahan dan pemberantasan Korupsi,

Baru-baru ini, para penegak hukum berhasil membekuk bukan hanya si pengantar emas seberat satu kilogram lebih, tapi juga pemiliknya. Emas murni yang nilainya mendekati dua miliar itu sempat meluncur mulus, hingga akhirnya tergelincir oleh ketelitian aparat. Tapi euforia itu, seperti biasa, hanya sebentar. Sebab para pembeli -mereka yang berburu emas dengan jas harum dan tabungan asing-masih buram, masih bebas merayakan pesta.

Kita bertepuk tangan, tapi belum berani menunjuk siapa dalang. Yang tertangkap hanyalah cabang, bukan batang. Apalagi akar. Dan akar inilah yang selama ini menjulur

Baca Juga :  Sejumlah Bangunan di Karawang Rusak Akibat Gempa M 4,9 Bekasi

masuk ke ruang-ruang kekuasaan: menyuap meja, membungkam mikrofon, menutup mata aparat yang lapar.

Ironisnya, tambang ilegal di Merangin lebih abadi dari rencana pembangunan daerah. Jika jalan berlubang tak kunjung ditambal, lubang tambang justru makin dalam. Seolah-olah menggali tanah lebih mudah daripada menggali rasa malu.

Padahal para pendahulu tahu benar: mendulang bukan sekadar mengais rezeki, tapi juga menjaga restu bumi. Mereka tak mengoyak sungai, tak menumpahkan sianida, tak menyumpahi langit. Mereka memanggil sungai dengan sebutan penuh hormat: sumber kehidupan. Bukan ladang produksi.

Hari ini, kita menyebutnya aset. Sungai dijadikan jalan tol bagi tambang, tanah dibongkar dengan dalih pertumbuhan. Tapi satu yang lupa: air yang keruh tak akan membersihkan luka nurani.(*)

 

Share :

Baca Juga

Daerah

Rapat Komisi II DPR RI 8 Juni 2026 Jadi Penentu Nasib PPPK Paruh Waktu 

Daerah

IHSG Ditutup Menguat 0,40 Persen ke Level 5.050,43, LQ45 Ikut Menghijau
BMKG Indonesia

Daerah

BMKG Perkuat Sistem Peringatan Dini, Pasang Ribuan Detektor

Bangko

Kapolres Merangin Tekankan Profesionalisme dan Pelayanan Humanis Saat Pimpin Sertijab Tiga Pejabat

Daerah

Gubernur Al Haris Ajak Masyarakat Membumikan Ekonomi Syariah

Advertorial

PDAM Tirta Khayangan Umumkan Jadwal Penggiliran Distribusi Air 

Daerah

PERANSAKA Nasional 2022 resmi dibuka oleh Plt. Seskemenpora

Advertorial

Gubernur Alharis Bersama BPKP Provinsi Jambi Bahas Isu Strategis