EksisJambi.com – Orientalis Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, mencatat berbagai kepercayaan masyarakat Aceh pada akhir abad ke-19, termasuk keyakinan terhadap benda-benda yang di yakini memiliki kekuatan gaib sebagai penolak luka dan pemberi kekebalan. Salah satu yang paling menarik adalah rante bui atau rantai babi, yang di sebut sebagai azimat pelindung dalam tradisi masyarakat saat itu.
Dalam karya monumentalnya The Achehnese yang kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Aceh di Mata Kolonialis (Jilid I dan II), Snouck Hurgronje menuliskan bahwa terdapat babi hutan tertentu yang dikenal dengan sebutan bui tunggal karena hidup menyendiri.
Menurut kepercayaan yang ia catat, babi tersebut memiliki kait berbahan seperti kawat baja yang menembus hidungnya dan di percaya menjadi sumber kekebalannya.
“Sejenis azimat lainnya penolak luka adalah rante bui (rantai babi). Babi hutan tertentu dinamakan bui tunggal (babi tunggal) karena suka menyendiri, kabarnya mempunyai kait kawat baja yang menusuk hidungnya yang menyebabkan ia kebal.”catatan Snouck Hurgronje
Ia juga mencatat kepercayaan masyarakat bahwa kait tersebut berasal dari sejenis cacing tanah yang tidak ikut termakan oleh babi, melainkan berubah menjadi azimat. Konon, ketika babi hendak makan, kait itu di lepaskan sehingga orang yang berhasil mengambilnya di percaya memperoleh benda bertuah tersebut.
Menariknya, Snouck Hurgronje juga mencatat adanya pandangan di kalangan umat Islam yang taat di Aceh mengenai penggunaan azimat.
Menurut keterangannya, banyak orang meyakini bahwa benda-benda yang di sebut peugawe (benda yang diyakini memberi kekebalan) hanya akan membawa manfaat apabila pemiliknya menjalani kehidupan beragama dengan baik.
Selain itu, ia juga menyebut keberadaan peungeulieh, yakni peluru timah yang dipercaya berubah menjadi besi. Benda ini diyakini membawa keberuntungan saat digunakan dalam peperangan, tetapi dianggap dapat mendatangkan malapetaka apabila dipakai di luar situasi tersebut.
Keterangan tersebut berasal dari hasil penelitian lapangan Snouck Hurgronje di Aceh pada 1895–1896, yang kemudian diterbitkan dalam The Achehnese pada tahun 1906.
Versi bahasa Indonesianya diterbitkan dengan judul Aceh di Mata Kolonialis (Jilid I dan II), diterjemahkan oleh Ng. Singarimbun, S. Maimoen, dan Kustiyani Mochtar, kemudian di sempurnakan oleh Yayasan Soko Guru. Edisi cetakan pertama diterbitkan pada 1985 di Jakarta.
Para sejarawan umumnya memandang karya Snouck Hurgronje sebagai salah satu sumber etnografi penting mengenai kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Aceh pada masa kolonial.
Namun, catatan tersebut tetap perlu dibaca secara kritis karena ditulis dari sudut pandang seorang orientalis yang juga berperan sebagai penasihat pemerintah kolonial Belanda.
Dengan demikian, kisah mengenai rante bui merupakan bagian dari dokumentasi kepercayaan masyarakat Aceh pada masa itu, bukan bukti ilmiah mengenai keberadaan atau khasiat benda tersebut.
Sumber: Aceh di Mata Kolonialis (Jilid I dan II), terjemahan The Achehnese karya C. Snouck Hurgronje, Yayasan Soko Guru, Jakarta, 1985.*







