Jambi,http://Eksisjambi.com – Sejarah panjang Kesultanan Jambi mencatat sebuah peristiwa penting pada 16 Maret 1904, ketika permata kerajaan yang di kenal sebagai Si Ginjai diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda. Penyerahan tersebut menjadi simbol melemahnya kekuasaan Kesultanan Jambi di tengah tekanan militer dan politik kolonial.
Si Ginjai merupakan keris pusaka yang melambangkan kedaulatan dan kekuasaan sultan di Jambi. Dalam tradisi kerajaan Melayu Jambi, benda ini bukan sekadar senjata, tetapi juga simbol legitimasi pemerintahan sultan atas wilayahnya.
Peristiwa bersejarah tersebut terjadi di rumah asisten residen Belanda di Jambi pada 16 Maret 1904. Dalam sebuah foto dokumentasi masa kolonial, tampak beberapa tokoh yang hadir dalam momen tersebut, di antaranya pengikut Residen Palembang, pejabat kolonial Belanda, para bangsawan Jambi, serta tokoh lokal yang terlibat dalam proses penyerahan.
Beberapa tokoh yang di sebut dalam dokumentasi tersebut antara lain pengikut Residen Palembang, seorang kontrolir Belanda, seorang pangeran yang sebelumnya di buang, tokoh Jambi bernama Kemas Kadir, pejabat kolonial J.A. van Rijn van Alkemade, O.L. Helfrich yang saat itu menjabat sebagai asisten residen sementara di Jambi, serta Pangeran Prabu Negara.
Kabar mengenai penyerahan ini bahkan di beritakan di surat kabar Belanda pada masa itu. Harian Algemeen Handelsblad edisi 19 April 1904 menulis bahwa Residen Palembang mengirim telegram ke Batavia pada 16 Maret 1904 yang menyebutkan:
“Pangeran Praboe menyerahkan kepada saya hari ini daerahnya, yang terdiri dari dataran rendah terbesar, dan menyerahkan kepada saya Si Gindje, permata kerajaan yang terkait dengan otoritas sultan, yang di berikan kepadanya oleh Taha.”
Dalam laporan tersebut di jelaskan bahwa Pangeran Prabu merasa tidak lagi mampu mempertahankan keamanan dan ketertiban di wilayah dataran rendah Jambi tanpa dukungan kekuatan pemerintahan yang lebih besar. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada pemerintah kolonial Belanda.
Selain keris Si Ginjai, sebuah simbol kekuasaan lain yang disebut “Sindja Merdjaja” juga di serahkan oleh Pangeran Ratoe. Kedua benda tersebut merupakan regalia atau lambang pemerintahan Kesultanan Jambi yang memiliki makna politik sangat penting.
Penyerahan kedua regalia kerajaan ini di anggap sebagai pengakuan formal dari para bangsawan utama Jambi bahwa otoritas tertinggi atas wilayah tersebut kini berada di tangan pemerintah kolonial Belanda.
Penyerahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada masa itu, Kesultanan Jambi tengah berada dalam tekanan besar dari pemerintah kolonial. Banyak bangsawan Jambi di buru, di tangkap, atau di asingkan oleh Belanda.
Perlawanan rakyat melalui perang gerilya yang sebelumnya cukup kuat juga mulai melemah. Sejumlah tokoh lokal bahkan berpihak kepada Belanda, termasuk Kemas Kadir yang disebut dalam berbagai catatan sebagai tokoh Jambi yang bekerja sama dengan pemerintah kolonial.
Selain itu, beberapa anggota keluarga kerajaan memilih menyerah kepada Belanda. Kondisi ini semakin memperlemah posisi politik Kesultanan Jambi.
Situasi tersebut juga di pengaruhi kondisi Sultan Thaha Syaifuddin, yang pada awal abad ke-20 telah berusia lanjut. Sultan yang di kenal sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda itu tidak lagi mampu memimpin secara langsung perlawanan terhadap kolonial.
Sekitar tahun 1903, Sultan Thaha menyerahkan pengelolaan pemerintahan kepada menantunya, Pangeran Prabu Negara. Namun situasi politik dan militer yang semakin terdesak membuat Pangeran Prabu akhirnya mengambil keputusan menyerahkan regalia kerajaan kepada Belanda pada 1904.
Peristiwa penyerahan Si Ginjai ini kemudian menjadi salah satu titik penting dalam sejarah runtuhnya kekuasaan Kesultanan Jambi dan menguatnya kontrol kolonial Belanda di wilayah tersebut.*+







