Kerinci, Eksisjambi.com – Masyarakat adat Dusun Koto Baru Semurup kembali meneguhkan jati diri dan keluhuran adat melalui pelaksanaan Penaikan Gelar Sko Ijung Karti, sebuah tradisi yang menjadi simbol pelestarian nilai-nilai adat serta penghormatan terhadap warisan leluhur Kerinci.
Dalam tatanan adat, Kalbu Ijung Karti bermukim di Dusun Koto Baru Semurup dan memiliki kedudukan penting melalui Depati Simpan Negeri Tuo yang berkedudukan di Rumah Pesusun Koto Baru Semurup. Keberadaan lembaga adat tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pemerintahan tradisional masyarakat Kerinci.
Jejak sejarah itu juga tercatat dalam Tambo Kerinci yang diterjemahkan oleh pakar filologi Belanda, Petrus Voorhoeve. Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa tambo “disimpan oleh Depati Simpan Negeri Tuo, Dusun Koto Baru Semurup”, yang menunjukkan peran penting wilayah tersebut sebagai tempat penyimpanan naskah dan warisan adat Kerinci.
Selain itu, terdapat pula sebuah surat beraksara Melayu yang ditulis di atas kertas, sebagaimana terdokumentasi dalam naskah lama. Surat tersebut diawali dengan kalimat:
“Kauluhu lhakk ta’ala. Alamat surat titah daripada Yang Dipertuan Seri Sultan dalam Inderapura serta menteri yang dua puluh, barang disampaikan Allah Subhanahu Wata’ala kiranya kepada dupati yang batiga lawan pemangku dengan penggawa serta menteri yang selapan dalam tanah Kurinci dalam negeri Semurut.”
Isi pembuka surat tersebut menunjukkan adanya hubungan historis antara Kerajaan Inderapura dengan para pemangku adat di Tanah Kerinci, khususnya di wilayah Semurup. Dokumen itu menjadi salah satu bukti penting mengenai sistem pemerintahan adat, struktur kepemimpinan, serta hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak masa lampau.
Penaikan Gelar Sko bukan sekadar prosesi adat, melainkan juga momentum memperkuat identitas budaya, menjaga kesinambungan kepemimpinan adat, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Melalui tradisi ini, masyarakat Koto Baru Semurup menegaskan komitmennya untuk terus melestarikan adat istiadat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan peradaban Kerinci.
Dengan tetap berpegang pada tambo dan naskah-naskah kuno sebagai sumber sejarah, masyarakat berharap warisan budaya tersebut dapat terus dijaga, dipelajari, dan diwariskan sebagai kekayaan budaya yang memiliki nilai penting bagi Kerinci maupun Indonesia.*







