Eksisjambi.com.Jambi, 7 Oktober 2026 — Kondisi kabut asap yang melanda wilayah kabupaten Merangin Jambi dalam beberapa hari terakhir semakin memburuk dan menebal. Warga sehari-hari mulai merasakan dampak langsung: udara yang dihirup terasa menyengat, perih di hidung, mata terasa pedih dan berair, serta napas terasa lebih berat dari biasanya. Kualitas udara yang semakin memburuk ini dikhawatirkan akan membawa dampak jangka panjang bagi kesehatan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari gangguan pernapasan ringan hingga risiko penyakit yang lebih serius.
Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan dampak dari musim kemarau yang berlangsung sangat panjang dan kering. Curah hujan yang nyaris tidak turun dalam waktu lama membuat tanah dan hutan menjadi sangat kering, sehingga api dengan mudah menyambar dan memicu kebakaran hutan serta lahan yang meluas ke hampir setiap daerah.
Asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut kemudian menyelimuti udara, menurunkan kualitas udara hingga ke tingkat yang dinyatakan tidak sehat untuk dihirup oleh siapa pun.
Situasi yang sudah sulit ini ternyata belum berakhir di sana. Masalah semakin diperparah oleh adanya sejumlah ruas jalan yang belum diaspal. Setiap kali kendaraan melintas, debu halus beterbangan dan bercampur dengan kabut asap yang sudah ada. Campuran asap dari kebakaran dan debu dari permukaan jalan yang tidak rata ini menciptakan kombinasi yang sangat berbahaya, semakin memperburuk kualitas udara yang dihirup warga setiap saat — baik di lingkungan rumah, saat beraktivitas di luar, maupun dalam perjalanan.
Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini, masyarakat luas menyampaikan harapan agar pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah yang tepat, terukur, dan cepat. Tidak sekadar pernyataan, melainkan tindakan nyata yang dapat mengurangi sumber pencemaran sekaligus melindungi warga yang terdampak.
Secara khusus, perhatian tertuju kepada anak-anak usia sekolah, yang merupakan kelompok paling rentan. Sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang, sehingga risiko terserang gangguan pernapasan, infeksi saluran napas, maupun penyakit lainnya jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, warga meminta agar pihak berwenang segera menyusun langkah perlindungan khusus bagi para pelajar — mulai dari pengawasan kualitas udara di lingkungan sekolah, penyediaan perlindungan diri yang layak, hingga pengaturan kegiatan belajar mengajar agar anak-anak tidak terpaksa menghirup udara yang berbahaya bagi kesehatan mereka.
Masyarakat berharap panggilan ini tidak sekadar menjadi catatan, melainkan segera direspons dengan kebijakan dan tindakan yang nyata demi keselamatan dan kesehatan seluruh warga. *Bas R*







