Eksisjambi.com,Kumun Debai- Dalam semangat melestarikan warisan budaya leluhur, masyarakat Kumun Debai kembali mengelar tradisi melemang sebagai bagian dari rangkaian acara Kenduri Sko Depati IV yang digelar lima tahun sekali. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kekeluargaan mulai pada hari jumat dan hari Sabtu di halaman rumah-rumah warga yang tergabung dalam wilayah Depati IV Kumun Debai.
Tradisi melemang merupakan proses memasak makanan khas berupa lemang beras ketan yang dimasak dalam bambu dengan santan kelapa, yang dilakukan secara serentak oleh kaum ibu, anak jantan, dan anak batino, Lemang ini bukan sekadar hidangan, tetapi simbol dari kehangatan, persatuan, dan keberkahan dalam setiap hajatan adat masyarakat Kerinci, khususnya di Kumun Debai.
“Melemang bukan hanya soal memasak lemang, tapi lebih dari itu, ini bentuk penghormatan kepada tradisi, leluhur, dan juga sebagai lambang persatuan dalam satu suku Depati IV Kumun Debai,” ujar ntino Raffi.
Proses melemang dimulai sejak pagi hari. Para ibu dan gadis sibuk menyiapkan bahan-bahan, sementara para pemuda membantu menyiapkan bambu dan api pembakaran. Kegiatan ini diselingi dengan canda tawa, petuah adat, serta lantunan doa-doa agar acara Kenduri Sko berjalan lancar dan membawa berkah bagi seluruh anak jantan dan anak batino dalam wilayah adat.
Ketua lembaga Kerapatan Adat Depati IV Kumun Debai,Barnis Dpt, mengatakan bahwa tradisi melemang akan terus dilestarikan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kumun Debai.
“Kenduri Sko tanpa Melemang ibarat tubuh tanpa nyawa, Lemang adalah simbol adat dan keharmonisan hidup berkeluarga di tengah masyarakat adat, Tradisi ini harus kita jaga dan wariskan ke generasi muda,” ungkapnya.
Ratusan lemang yang telah matang nantinya akan dibagikan dan disantap bersama dalam puncak acara Kenduri Sko pada Minggu, 6 Juli 2025 mendatang, Acara tersebut diperkirakan akan dihadiri oleh Gubernur Jambi Alharis, tokoh adat, perantau Kumun Debai dari berbagai daerah, serta ribuan masyarakat umum.
Dengan semangat kebersamaan dan pelestarian adat, tradisi melemang menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal masih kuat mengakar di tengah modernisasi zaman.(Khairul)







