Oleh Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd. (Guru Besar UIN STS Jambi)
Jambi, Eksisjambi.com -Transformasi digital dalam dunia pendidikan kini tak lagi sekadar inovasi, melainkan sudah menjadi tagihan institusional dan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus globalisasi abad ke-21.
Prof. Dr. Mukhtar Latif menjelaskan bahwa dorongan utama transformasi ini muncul karena dua hal: perkembangan teknologi yang begitu cepat, serta tuntutan untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) dengan keterampilan digital dan agensi digital yang kuat.
“Kegagalan beradaptasi dengan teknologi akan memperlebar kesenjangan digital antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja,” tulisnya dalam naskah ilmiah yang di terbitkan di Jambi, Sabtu (2/11/2025).
Transformasi digital, lanjutnya, menjadi keniscayaan agar mutu pendidikan tetap relevan dan efisien.
Menurut Prof. Mukhtar, ada dua faktor utama yang menjadikan transformasi digital sebagai tagihan pendidikan nasional:
1. Adaptasi terhadap Era Society 5.0
Dunia kini menuntut integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam pembelajaran. Namun, penggunaan AI menimbulkan dilema etis dan pedagogis yang wajib di respons oleh sistem pendidikan.
2. Dorongan Regulasi Pemerintah
Pemerintah Indonesia telah menetapkan arah kebijakan transformasi digital melalui Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023 tentang Percepatan Transformasi Digital, serta Permendikbudristek Nomor 8 Tahun 2022 tentang SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) di sektor pendidikan.
“Kebijakan ini menuntut tata kelola pendidikan digital yang terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Digitalisasi pendidikan, menurut Mukhtar, bukan hanya mengganti alat konvensional dengan teknologi, tetapi mengubah secara fundamental cara belajar dan mengajar.
Proses ini penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam pemerataan akses pendidikan.
“Dengan teknologi, hambatan geografis dan waktu bisa di atasi. Digitalisasi membuka jalan bagi pembelajaran yang inklusif dan merata,” tulisnya, merujuk pada penelitian Bozkurt (2021) dan Rieckmann (2023).
Di Indonesia, upaya ini di wujudkan melalui kebijakan Kurikulum Merdeka yang mendukung adaptasi teknologi pendidikan modern.
Prof. Mukhtar menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya urusan perangkat, tetapi juga pergeseran paradigma belajar. Ia mengutip tiga teori utama:
1. Konektivisme
Belajar di era digital terjadi dalam jaringan informasi. Literasi digital menjadi kunci agar siswa mampu menavigasi dunia maya dengan kritis dan produktif.
2. Teori Perubahan Organisasi
Keberhasilan transformasi digital bergantung pada kepemimpinan strategis dalam mengelola perubahan, mengatasi resistensi, dan membangun budaya digital di lembaga pendidikan.
3. Teori Deep Learning
Teknologi harus mendorong siswa berpikir mendalam dan kreatif melalui pengalaman belajar yang interaktif dan personal.
Dalam pandangan Prof. Mukhtar, negara maju seperti Uni Eropa dan Singapura berhasil karena menekankan integrasi teknologi mendalam, etika digital, serta personalized learning berbasis data.
Sebaliknya, negara berkembang seperti Indonesia perlu fokus pada pemerataan infrastruktur dan peningkatan kompetensi guru.
“Transformasi digital harus memastikan keadilan akses, bukan menambah jurang kesenjangan,” ujarnya, mengutip pandangan Selwyn (2024).
Transformasi digital pendidikan adalah keharusan yang membawa tagihan global sekaligus tantangan lokal. Digitalisasi bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana untuk menciptakan pendidikan yang lebih efektif, inklusif, dan berkeadilan.
Prof. Mukhtar menekankan tiga prasyarat utama agar transformasi digital di Indonesia berhasil:
- Pemerataan Infrastruktur Digital
- Peningkatan Literasi dan Kompetensi Guru
- Kebijakan yang Adaptif dan Berkelanjutan
“Jika ketiganya berjalan beriringan, digitalisasi bukan sekadar jargon, tetapi kekuatan nyata untuk menyiapkan generasi emas Indonesia yang kompetitif di panggung dunia,” tutupnya.
Profil Singkat :
Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd. adalah Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, pakar pendidikan dan teknologi pembelajaran. Beliau aktif menulis dan meneliti isu-isu transformasi pendidikan di era digital.







