Eksisjambi.com,Sungai Penuh / Kerinci-Dalam upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya yang hampir terlupakan, sejumlah sanggar seni dari Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci menggelar sebuah tradisi sakral bertajuk Napak Dahin. Kegiatan ini berlangsung khidmat di Dusun Nek, Kota Sungai Penuh, dan menampilkan ragam kesenian serta budaya Kerinci tempo dulu.
Tradisi Napak Dahin menjadi refleksi hidup masyarakat Suku Kerinci masa lampau, yang sarat dengan nilai-nilai luhur dan harmoni sosial. Dalam acara tersebut ditampilkan berbagai bentuk seni budaya seperti Parno Adat, makan bersama dengan hidangan khas Nasi Ibat, Rentak Kudo, Sike Rebana, hingga Tale Ngasuh Anak.
Ketua Sanggar Seni Ilok Rupo Kota Sungai Penuh, Meyzateti, menjelaskan bahwa Napak Dahin adalah bentuk cerita hidup tentang bagaimana tradisi Suku Kerinci dijalani di masa lalu. “Misalnya, Tale Ngasuh Anak merupakan irama lagu lembut yang dinyanyikan oleh para ibu saat menidurkan anaknya. Sementara Sike Rebana merupakan seni yang memadukan irama musik dengan syair-syair religius dan adat, yang biasa ditampilkan dalam acara keagamaan dan upacara adat,” ujar Meyzateti.
Salah satu tarian yang turut memeriahkan kegiatan adalah Rentak Kudo, sebuah tarian dinamis sebagai wujud kegembiraan masyarakat Kerinci dalam menyambut momen-momen kebersamaan dan keberkahan.
Kegiatan Napak Dahin ini merupakan bagian dari program Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, yang mendorong pelestarian budaya lokal melalui revitalisasi tradisi yang hampir hilang. Kota Sungai Penuh menjadi lokasi pertama penyelenggaraan tradisi ini, sebagai pilot project yang diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk kembali mengenal, mencintai, dan menerapkan budaya leluhur mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan terselenggaranya Napak Dahin, para pelaku seni dan masyarakat berharap agar nilai-nilai budaya Suku Kerinci tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi yang semakin deras.(Khairuls).







