Oleh: Ali Prawinata, S.H., M.Η.
Merangin eksisjambi.com- Di masa lalu, ketika bulan belum kalah terang oleh lampu-lampu kota dan suara jangkrik belum tertutup bising mesin tambang, Sungai Merangin adalah ibu. la memberi makan, memberi minum, dan sesekali-emas. Tapi bukan emas yang dirampas paksa. la diambil perlahan, penuh rasa, oleh tangan-tangan yang tahu malu pada alam.
Orang-orang dulu menyebutnya mendulang. Mereka bawa dulang dari kayu, saringan dari anyaman kawat, dan harapan yang secukupnya. Tak ada ekskavator, tak ada sianida, tak ada sungai dibongkar, dibalik, disumpahi. Mereka bukan perusak, mereka pewaris. Sungai jernih, ikan baung bisa ditangkap dengan jala, dan anak-anak mandi tanpa takut limbah. Mereka tak kaya, tapi cukup. Mereka tak rakus, tapi paham batas.
Hari ini, mendulang sudah diganti dengan menambang. Kata lama itu kini dianggap kampungan, kalah tren dengan “produksi” dan “investasi”. Sungai tak lagi ibu, ia berubah jadi tambang terbuka. Airnya cokelat, baunya busuk. Jika dulu ikan ditangkap pakai tangan, sekarang pakai alat uji laboratorium: kadar racunnya, bukan gizinya.
Baru-baru ini, para penegak hukum berhasil membekuk bukan hanya si pengantar emas seberat satu kilogram lebih, tapi juga pemiliknya. Emas murni yang nilainya mendekati dua miliar itu sempat meluncur mulus, hingga akhirnya tergelincir oleh ketelitian aparat. Tapi euforia itu, seperti biasa, hanya sebentar. Sebab para pembeli -mereka yang berburu emas dengan jas harum dan tabungan asing-masih buram, masih bebas merayakan pesta.
Kita bertepuk tangan, tapi belum berani menunjuk siapa dalang. Yang tertangkap hanyalah cabang, bukan batang. Apalagi akar. Dan akar inilah yang selama ini menjulur
masuk ke ruang-ruang kekuasaan: menyuap meja, membungkam mikrofon, menutup mata aparat yang lapar.
Ironisnya, tambang ilegal di Merangin lebih abadi dari rencana pembangunan daerah. Jika jalan berlubang tak kunjung ditambal, lubang tambang justru makin dalam. Seolah-olah menggali tanah lebih mudah daripada menggali rasa malu.
Padahal para pendahulu tahu benar: mendulang bukan sekadar mengais rezeki, tapi juga menjaga restu bumi. Mereka tak mengoyak sungai, tak menumpahkan sianida, tak menyumpahi langit. Mereka memanggil sungai dengan sebutan penuh hormat: sumber kehidupan. Bukan ladang produksi.
Hari ini, kita menyebutnya aset. Sungai dijadikan jalan tol bagi tambang, tanah dibongkar dengan dalih pertumbuhan. Tapi satu yang lupa: air yang keruh tak akan membersihkan luka nurani.(*)







