Penulis : al-Habib asy-Syaikh Alwi bin Abdil Qadir as-Saqqaf hafizhahullah ta’ala
Eksisjambi.com – Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjadi salah satu momen besar dalam kalender umat Islam di berbagai belahan dunia. Namun, jika menilik jejak sejarahnya, peringatan ini bukanlah tradisi yang dilakukan pada masa Rasulullah maupun generasi awal Islam.
Menurut catatan sejarah, sahabat Nabi, para tabi‘in, dan ulama besar generasi setelahnya tidak mengenal perayaan Maulid. Nama-nama besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi‘i, Imam Ahmad, bahkan para ahli hadits seperti Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, tidak pernah meriwayatkan adanya tradisi tersebut.
Sejarawan Islam menyebutkan bahwa perayaan Maulid pertama kali muncul pada abad ke-4 Hijriah, diperkenalkan oleh kelompok Syiah Rafidhah al-‘Ubaidiyyun. Mereka bukan hanya memperingati kelahiran Nabi, melainkan juga mengadakan berbagai maulid lain, seperti maulid ‘Ali, Fathimah, Hasan, hingga Husain. Jumlahnya bahkan mencapai 27 perayaan.
Catatan ini diabadikan oleh al-Maqrizi dalam karyanya al-Khithath. Namun, seluruh tradisi tersebut lenyap setelah runtuhnya Dinasti ‘Ubaidiyyah pada tahun 567 H oleh Shalahuddin al-Ayyubi.
Seiring waktu, sebagian pihak berusaha mengaitkan perayaan Maulid dengan penguasa Irbil, Raja al-Muzaffar Abu Sa‘id Kaukabri (wafat 630 H). Imam Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidāyah wa an-Nihāyah memang menyebut bahwa sang raja kerap menggelar perayaan besar pada bulan Rabi‘ul Awwal. Namun, tidak ada pernyataan bahwa dialah orang pertama yang mengadakannya.
Fakta lain yang juga menjadi perdebatan adalah kepastian tanggal lahir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Mayoritas sejarawan justru menegaskan bahwa 12 Rabi‘ul Awwal adalah hari wafatnya Rasulullah, bukan hari kelahiran beliau.
Seiring berkembangnya waktu, perayaan Maulid menyebar ke berbagai negeri Islam. Sebagian ulama menilai ada sisi positif karena di dalamnya disampaikan kisah perjalanan hidup Rasulullah. Namun, tidak sedikit pula ulama yang menolak karena menganggap tradisi ini tidak memiliki dasar pada abad-abad awal Islam.
Dalam praktiknya, perayaan Maulid di sejumlah daerah juga diwarnai dengan beragam kegiatan tambahan, mulai dari tabuhan rebana, pembacaan qasidah, hingga acara-acara yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. Hal inilah yang memunculkan perbedaan pandangan di kalangan umat Islam, antara yang melihatnya sebagai sarana syiar dan yang menganggapnya sebagai bentuk bid‘ah.
Perayaan Maulid Nabi hingga kini tetap menjadi bagian dari dinamika umat Islam. Di satu sisi, ia dianggap sebagai momen mempertebal cinta kepada Rasulullah. Di sisi lain, ia masih menyimpan kontroversi panjang mengenai asal-usul dan keabsahannya dalam ajaran Islam.(*)







