Home / Internasional / Nasional / News / Religi

Rabu, 31 Desember 2025 - 12:49 WIB

Jalan Sunyi Menuju Ilmu Hakiki dan Makrifat

Syariat dan Hakikat

Syariat dan Hakikat

Religi, http://Eksisjambi.com – Di tengah masyarakat yang kerap menilai seseorang dari pakaian, gelar, dan penampilan lahiriah, ajaran para Guru Mursyid mengingatkan bahwa ukuran hakikat tidak pernah terletak pada apa yang tampak di mata. Kebijaksanaan sejati justru sering bersembunyi di balik kesederhanaan, bahkan di balik rupa yang dianggap hina oleh pandangan umum.

Seorang Guru Mursyid menegaskan, jangan sekali-kali menilik pakaian atau kedudukan seseorang lalu menyimpulkan bahwa ia tergolong alim, bijak pandai, atau berasal dari keturunan baik-baik. Pakaian sutra dan intan berlian tidak menjamin kemuliaan batin, sebagaimana kera tetaplah kera meski berhias kemewahan.

Pesan ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang hendak menempuh jalan Ilmu Hakiki dan Makrifat, bahwa pencarian ilmu sejati tidak boleh terjebak pada simbol lahiriah. Ilmu hakikat menuntut kejernihan hati, bukan kekaguman pada rupa.

Guru Mursyid Tak Selalu Tampak Mulia di Mata Manusia

Dalam tradisi tasawuf dan kebatinan Islam, Guru Mursyid bukanlah sosok yang harus selalu tampak terhormat menurut standar sosial. Ia bisa saja seorang miskin, orang yang dianggap hina, bahkan berperawakan seperti orang gila atau jahil. Ia bisa berasal dari kalangan rakyat jelata maupun raja, berada di masjid, di tepi jalan, di kota, bahkan di hutan.

Yang terpenting bukanlah tempat, status, atau penampilan, melainkan kemursyidan kemampuan membimbing murid menuju pengenalan diri dan pengenalan kepada Allah.

“Kelakuan dan perangai zahir seseorang tidak boleh dijadikan kayu ukur mutlak untuk menilai kemursyidan,” demikian pesan yang diwariskan para guru hakikat. Tidak semestinya orang yang tampak jahil itu tidak alim, dan tidak semestinya orang yang tampak buruk itu benar-benar buruk di sisi Allah.

Baca Juga :  DPRD Kota Sungai Penuh Ikuti Rakor Pemberantasan Korupsi secara Hybrid

Ilmu Ghaib dan Syahadah: Jalan yang Tak Mudah Diterima Akal

Ilmu Ghaib dan Syahadah adalah ilmu yang pelik dan sukar diterima oleh daya pikir manusia biasa. Banyak perilaku dan isyarat yang ditunjukkan oleh orang-orang yang menguasainya justru berada di luar nalar dan kebiasaan masyarakat umum.

Sebagai ibrah yang paling dekat, Al-Qur’an mengisahkan bagaimana Nabi Musa AS diperintahkan Allah untuk mencari Nabi Khidir AS. Perjalanan itu sendiri sudah melampaui logika manusia: berjalan menyusuri pantai laut hingga ikan kering yang telah mati hidup kembali dan melompat ke laut.

Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa dalam mencari guru sejati saja, manusia sudah diuji dengan hal-hal di luar daya pikirnya. Maka apalagi ilmu yang akan diajarkan, tentu jauh lebih tinggi dan mendalam.

Langka, Tapi Ada: Guru Syariat dan Hakikat Sekaligus

Diakui, sangat jarang menemukan seorang guru yang sekaligus alim dalam syariat dan mursyid dalam ilmu hakikat serta makrifat. Jika seseorang menemukannya, maka itulah guru yang paling sempurna. Namun jika tidak, maka menjumpai seorang Guru Hakiki dan Makrifat yang Mursyid pun sudah cukup sebagai bekal perjalanan ruhani.

Sifat dan Ciri Guru Mursyid

Para ulama dan ahli hakikat merumuskan beberapa ciri utama Guru Mursyid, di antaranya:

Menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan dan bukti utama.

Bersandar pada Hadis Nabi dan Hadis Qudsi.

Baca Juga :  Perumda Tirta Khayangan Berupaya Atasi Krisis Air Bersih di Tengah Kemarau panjang

Mengutip nasihat dan petuah para Guru Mursyid sebelumnya.

Menggunakan qiyas dan ijtihad laduni hasil pengalaman ruhani yang mendalam.

Adapun sifat dan perangai yang biasanya tampak dalam hubungan guru dan murid meliputi:

Mengajar dengan jujur dan ikhlas.

Bijak memilih murid yang layak menerima ilmu tertentu.

Tidak memiliki dengki terhadap murid.

Tidak menyembunyikan ilmu yang memang layak diminta dan diterima.

Selalu memberi nasihat yang benar dan hak.

Tidak memperalat murid demi kepentingan pribadi.

Senantiasa mendoakan murid agar memperoleh derajat, keberkahan, dan rida Allah di dunia dan akhirat.

Guru Mursyid pada umumnya juga tidak meninggalkan syariat dan menjalani hidup sebagaimana manusia kebanyakan. Namun demikian, perbedaan martabat ruhani antar manusia sangat halus dan tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.

Makrifat: Jalan Mengenal Diri dan Kembali kepada Allah

Ajaran makrifat menegaskan bahwa manusia memikul tanggung jawab besar: mengenal diri sebagai jalan mengenal Tuhan. Hidup dan mati bukanlah akhir, melainkan perpindahan alam. Tanggung jawab ruhani tidak pernah terputus.

Dirimu itu Sirrullah

Tanggung jawab dipikul

Mengenal diri kewajiban

Makrifat itu jalan sebenar

Dalam pandangan hakikat, tiada yang nyata selain Allah. Hidup, mati, dan perubahan hanyalah perjalanan menuju kembali kepada-Nya. Amalan guru sejati bukanlah yang tampak megah, melainkan kesempurnaan batin yang bersemayam di dalam qalbu.

Di situlah ilmu hakiki bermula, tumbuh, dan berakhir dalam kesadaran bahwa semua jalan pada akhirnya kembali kepada Yang Maha Esa.***

Share :

Baca Juga

Advertorial

Wawako Azhar Pimpin Renungan Pramuka Ke-64

News

MPC PP Tanjab Barat Berikan Bantuan Korban Kebakaran Di Kelurahan Tungkal IV

Advertorial

DPRD Tanjabbar Gelar Paripurna Ke-Tiga Dengar Tanggapan Bupati Atas Pandangan Fraksi-Fraksi

Advertorial

Wakili Bupati Tanjab Barat Staf Ahli Bidang Pemerintahan Setda Hadiri Haul Akbar Sulthanul Aulia Syekh Abdul Qadir Al Jailani Ke IX Kempas jaya

Daerah

Jelang Pemilu 2024, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tebo Gelar Pelatihan Pelatih Saksi Daerah

Daerah

Kolaborasi Dinkes dan RSUD MH.Thalib, Laboratorium PCR RSUD Segera Di Buka

Advertorial

Plh. Sekda Arief Munandar: Simulasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Langkah Nyata Tingkatkan Kesiapsiagaan

Advertorial

PJ.Bupati Kerinci Sidak Harga Bahan Pokok di Pasar Senen Siulak