Religi, http://Eksisjambi.com – Isra’ dan Mi’raj tidak hanya di pahami sebagai peristiwa agung yang di alami Nabi Muhammad SAW semata, melainkan juga memiliki makna mendalam bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan spiritual. Perjalanan suci tersebut mengandung pesan ruhaniyah yang dapat di renungkan dan di hayati oleh setiap insan beriman.
Isra’ secara lahiriah di maknai sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Namun dalam perspektif ruhaniyah, Isra’ merupakan simbol perjalanan batin manusia perjalanan dzikir yang berlangsung di dalam qolbu (hati) setiap hamba Allah.
Masjidil Haram dalam makna ruhaniyah di pahami sebagai latifatul qolbi, yakni pusat kesadaran terdekat dalam diri manusia. Dari titik inilah perjalanan di mulai, menuju Masjidil Aqsha yang di maknai sebagai wilayah terdalam dari qolbu.
Perjalanan ini bukanlah perjalanan fisik, melainkan perjalanan kesadaran spiritual yang menghantarkan manusia menuju puncak penghambaan kepada Allah SWT.
Wilayah terdalam dari qolbu inilah yang dalam makna hakikat di sebut sebagai Sidratul Muntaha, yaitu titik tertinggi kesadaran ruhani seorang hamba. Di sanalah ruh manusia mencapai puncak kedekatan dengan Allah, saat segala keterikatan duniawi luruh dan hanya tersisa kehadiran Ilahi.
Dengan demikian, qolbu sejatinya adalah masjid terbaik bagi manusia. Di dalamnya, seorang hamba dapat bersujud kepada Allah dengan sebenar-benarnya sujud, menghimpunkan seluruh dirinya dalam dzikrullah, dan menghadirkan Allah dalam kesadaran terdalam.
Sementara itu, hakekat Mi’raj ruhaniyah adalah saat diri manusia “di tarik” oleh nur Allah hingga berhimpun kembali kepada nur-Nya. Pada momen inilah tingkat kesadaran ruhani seseorang terangkat, naik menuju pengenalan dan kedekatan sejati dengan Sang Khalik.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa dalam Al-Qur’an, kisah Isra’ tidak secara eksplisit di gandengkan dengan kisah Mi’raj. Sebab pada hakikatnya, di dalam Isra’ itu sendiri telah terkandung Mi’raj.
Ketika seorang hamba menempuh perjalanan batin menuju kedalaman qolbunya, di sanalah Mi’raj ruhani terjadi kenaikan kesadaran menuju Allah SWT.
Isra’ dan Mi’raj, dengan demikian, bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan panggilan spiritual agar umat Islam senantiasa melakukan perjalanan ruhani dalam kehidupan sehari-hari, memperbanyak dzikir, menjaga kesucian hati, dan terus mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh kesadaran.**







