JAKARTA, http://Eksosjambi.com – Umat Muslim di sejumlah negara Eropa bagian utara seperti Finlandia, Norwegia, dan Swedia kerap menjalani waktu puasa yang jauh lebih panjang dibandingkan negara-negara di kawasan tropis. Dalam kondisi tertentu, durasi puasa di wilayah tersebut bahkan bisa mencapai 18 hingga 22 jam dalam sehari.
Fenomena ini bukan disebabkan oleh perbedaan aturan agama, melainkan faktor geografis dan kondisi alam yang ekstrem di kawasan tersebut.
Pengaruh Letak Geografis
Negara-negara Nordik berada sangat dekat dengan Lingkar Arktik atau Kutub Utara. Semakin ke utara suatu wilayah, perbedaan panjang siang dan malam akan semakin ekstrem, terutama saat memasuki musim panas.
Ketika bulan Ramadhan jatuh pada musim panas, Matahari dapat terbit sangat pagi dan terbenam sangat lambat. Bahkan di beberapa wilayah tertentu, Matahari tidak sepenuhnya terbenam dalam satu hari penuh. Fenomena ini dikenal sebagai “midnight sun” atau matahari tengah malam.
Akibatnya, rentang waktu antara sahur (sebelum terbit fajar) hingga berbuka puasa (saat Matahari terbenam) menjadi sangat panjang.
Bisa Capai 18–22 Jam
Di sejumlah kota bagian utara Finlandia, Norwegia, dan Swedia, waktu siang hari saat musim panas bisa berlangsung hampir sepanjang hari. Kondisi ini membuat umat Muslim di sana menjalani puasa dengan durasi yang jauh lebih lama dibandingkan negara seperti Indonesia, yang rata-rata hanya sekitar 13 jam per hari.
Dalam praktiknya, lama puasa di negara-negara tersebut bisa berkisar antara 18 hingga 22 jam, tergantung pada lokasi kota dan waktu jatuhnya Ramadhan dalam kalender Masehi.
Bukan Perbedaan Aturan Agama
Para ulama sepakat bahwa perbedaan lama waktu puasa ini murni disebabkan oleh kondisi alam dan letak geografis masing-masing wilayah, bukan karena adanya perbedaan ajaran atau aturan agama Islam.
Penentuan waktu puasa tetap mengikuti prinsip dasar, yakni dari terbit fajar hingga terbenam Matahari di wilayah setempat. Namun, dalam kondisi ekstrem seperti wilayah yang mengalami siang atau malam sangat panjang, sebagian ulama membolehkan penggunaan waktu negara terdekat yang lebih normal atau mengikuti waktu Makkah sebagai rujukan, demi kemaslahatan umat.
Tantangan dan Ketahanan
Meski menghadapi durasi puasa yang panjang, umat Muslim di negara-negara Nordik tetap menjalankan ibadah dengan penuh semangat. Komunitas Muslim setempat biasanya saling mendukung melalui kegiatan buka puasa bersama dan penguatan spiritual selama Ramadhan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa lama atau singkatnya waktu puasa sangat dipengaruhi oleh dinamika pergerakan bumi terhadap Matahari, sekaligus menjadi pengingat tentang keberagaman kondisi alam di berbagai belahan dunia.**







