FIFA, Eksisjambi.com – Krisis kepemimpinan di tubuh FIFA semakin memanas setelah tiga konfederasi besar dunia, AFC (Asia), CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia), serta UEFA (Eropa), merilis surat terbuka kepada “keluarga sepak bola” yang berisi kritik keras terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Surat terbuka tersebut muncul setelah kontroversi rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta melalui skema FIFA Forward Enterprise (FFE). Rencana itu akhirnya dibatalkan menyusul gelombang penolakan dari berbagai federasi dan asosiasi sepak bola.
Dalam surat itu, ketiga konfederasi menilai langkah Infantino merupakan pelanggaran serius terhadap kepercayaan dan menunjukkan kegagalan kepemimpinan karena dinilai mengambil keputusan strategis tanpa konsultasi yang memadai dengan para pemangku kepentingan sepak bola dunia.
Selain mengecam kebijakan FIFA, AFC, CONCACAF, dan UEFA mengungkapkan bahwa mereka telah mulai membahas kemungkinan menggelar kompetisi alternatif apabila konflik dengan FIFA terus berlanjut.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan para pemain dan tim nasional tetap memiliki ajang kompetisi internasional, termasuk menghadapi agenda turnamen FIFA yang akan datang seperti Piala Dunia Wanita U-20.
Sinyal Agar Infantino Mengundurkan Diri
Isi surat terbuka juga memberikan sinyal kuat bahwa Gianni Infantino dinilai sudah kehilangan kepercayaan dari sebagian besar pemangku kepentingan sepak bola internasional.
Ketiga konfederasi menyampaikan bahwa jalan terbaik adalah agar Infantino mengundurkan diri secara terhormat, sekaligus meminta agar ia tidak kembali mencalonkan diri pada pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
FIFA Tetap Membela Infantino
Di sisi lain, FIFA tetap memberikan dukungan kepada Gianni Infantino. Organisasi tersebut menegaskan bahwa proposal investasi sebelumnya bertujuan meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola global dan tetap mempertahankan kendali FIFA atas seluruh aspek olahraga, meski akhirnya rencana tersebut tidak dilanjutkan.
Perselisihan ini menjadi salah satu krisis tata kelola terbesar dalam sejarah FIFA dan berpotensi memengaruhi arah kepemimpinan organisasi sepak bola dunia menjelang pemilihan presiden pada 2027. *







