Home / Daerah / Internasional / Nasional / News

Rabu, 30 September 2026 - 10:37 WIB

Abu Sawit Disulap Jadi Katalis Biodiesel, Inovasi Vokasi UNDIP Dorong Energi Bersih Berkelanjutan

SEMARANG, Eksisjambi.com – Di tengah kebutuhan dunia terhadap energi bersih, ekonomi sirkular, dan industri rendah karbon, limbah industri kelapa sawit mulai dilirik sebagai sumber inovasi baru. Salah satunya melalui kajian pemanfaatan abu boiler pabrik kelapa sawit sebagai bahan potensial untuk pengembangan katalis dalam produksi biodiesel berkelanjutan.

Gagasan tersebut di kembangkan oleh Dr. Mohamad Endy Julianto, dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP), bersama mahasiswa Lutfi Fitriyani dan Inas Taqiyyah.

Melalui kajian ini, mereka mencoba menjawab tantangan besar industri sawit: bagaimana limbah yang selama ini dianggap residu dapat di kembalikan menjadi bagian dari solusi energi masa depan.

Penelitian tersebut mengangkat peluang pemanfaatan abu boiler kelapa sawit sebagai material dasar katalis heterogen untuk meningkatkan efisiensi proses produksi biodiesel, khususnya dari bahan baku minyak sawit dengan kualitas rendah atau crude palm oil (CPO) berkadar asam lemak bebas (Free Fatty Acid/FFA) tinggi.

Mengatasi Tantangan Produksi Biodiesel

Selama ini, produksi biodiesel menggunakan katalis basa konvensional menghadapi sejumlah kendala ketika bahan baku memiliki kadar FFA tinggi. Kondisi tersebut dapat memicu pembentukan sabun, munculnya emulsi, kesulitan pemisahan gliserol, meningkatnya kebutuhan proses pencucian, hingga bertambahnya limbah cair.

Karena itu, pengembangan katalis heterogen bifungsional menjadi salah satu pendekatan yang menarik. Katalis jenis ini secara teori mampu menjalankan dua proses sekaligus, yaitu esterifikasi untuk mengurangi kandungan FFA dan transesterifikasi untuk mengubah trigliserida menjadi biodiesel.

Dalam konteks tersebut, abu boiler sawit memiliki peluang untuk di kembangkan melalui berbagai tahapan, mulai dari karakterisasi, aktivasi, modifikasi, hingga pembentukan material katalis sesuai kebutuhan proses.

Namun, kajian ini menekankan bahwa pemanfaatan limbah tidak serta-merta menjadikannya teknologi hijau. Setiap inovasi tetap membutuhkan pembuktian melalui analisis teknis dan lingkungan, seperti neraca massa, neraca energi, pengelolaan residu, serta kajian daur hidup atau Life Cycle Assessment (LCA).

Baca Juga :  Presiden Prabowo Saksikan Kesepakatan Bisnis Rp401,71 Triliun, Indonesia Kian Dilirik Investor Global

Kajian ini juga menjadi contoh bagaimana pendidikan vokasi menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan industri. Lutfi Fitriyani dan Inas Taqiyyah tidak hanya berperan sebagai mahasiswa dalam kegiatan akademik, tetapi terlibat langsung dalam proses memahami hubungan antara bahan baku, katalis, reaksi kimia, desain reaktor, kualitas produk, hingga peluang hilirisasi teknologi.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep pendidikan vokasi yang menempatkan mahasiswa dekat dengan dunia industri, mulai dari teknologi proses, pengujian mutu, keselamatan kerja, hingga pengembangan solusi berbasis kebutuhan nyata.

Menariknya, penelitian ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Tim peneliti juga melihat peluang pengembangan menuju sistem reaktor alir kontinu dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti rasio metanol terhadap minyak, suhu reaksi, laju alir, waktu tinggal, beban katalis, ukuran pelet, kadar FFA, kadar air, hingga sistem resirkulasi.

Beberapa konfigurasi reaktor seperti fixed-bed, CSTR kontinu, maupun trickle-bed juga menjadi bagian dari kajian untuk melihat efektivitas perpindahan massa, stabilitas katalis, penurunan tekanan, serta kemudahan operasional.

Menuju Hilirisasi Teknologi Biodiesel

Menurut kajian tersebut, pengembangan teknologi biodiesel tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Diperlukan data nyata mengenai volume CPO off-spec, variasi kadar FFA dan air, biaya bahan baku, kebutuhan metanol, konsumsi energi, harga katalis, proses pemurnian, pengelolaan limbah, hingga kepastian pasar.

Artinya, teknologi harus dibangun berdasarkan data dan pengujian, bukan hanya asumsi.

Dr. Mohamad Endy Julianto menilai Sekolah Vokasi memiliki peran strategis dalam rantai inovasi tersebut. Vokasi tidak hanya menjadi tempat pembelajaran teori dan praktik, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat pengembangan prototipe, reaktor, instrumentasi, sistem kontrol, pengujian mutu, hingga demonstrasi teknologi.

Baca Juga :  DPRD Tanjab Barat Gelar Rapat paripurna Penyampaian Nota Pengantar LKPJ

Salah satu konsep yang dikembangkan adalah Biodiesel Process Teaching Factory, yaitu fasilitas pembelajaran yang dirancang menyerupai lingkungan industri sehingga mahasiswa dapat belajar melalui proses nyata.

Selain itu, muncul pula gagasan “One Student — One Process Improvement”, di mana setiap mahasiswa didorong menyelesaikan satu persoalan spesifik dalam proses industri, seperti meningkatkan umur operasi katalis, mengurangi konsumsi metanol, menekan pressure drop, atau memperbaiki kestabilan mutu produk.

Dari Laboratorium Menuju Industri

Kajian pemanfaatan abu sawit menjadi katalis biodiesel ini menunjukkan bahwa inovasi energi masa depan dapat lahir dari cara pandang baru terhadap limbah.

Abu boiler yang sebelumnya hanya dianggap sebagai residu, kini memiliki peluang menjadi material bernilai tambah. Sementara CPO dengan kualitas rendah dapat menjadi tantangan rekayasa untuk menghasilkan teknologi pengolahan yang lebih efisien.

Peta jalan penelitian tersebut dirancang secara bertahap, mulai dari pengembangan dan karakterisasi katalis, pengujian kinetika dan optimasi proses, pengembangan reaktor kontinu skala laboratorium, pilot project, hingga peluang demonstrasi bersama koperasi atau industri.

Setiap tahapan memiliki target teknis yang harus diuji, termasuk stabilitas katalis, mutu biodiesel, aspek keselamatan, serta kelayakan ekonomi sebelum masuk tahap komersialisasi.

Pada akhirnya, inovasi ini bukan hanya tentang abu sawit dan biodiesel. Lebih luas, penelitian tersebut menggambarkan bagaimana pendidikan vokasi mampu mengubah persoalan industri menjadi solusi teknologi.

Dari residu menjadi katalis. Dari katalis menjadi proses. Dari proses menuju energi bersih.

Melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa TRKI Vokasi UNDIP, riset berbasis industri diharapkan mampu melahirkan teknologi yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi industri kelapa sawit dan masyarakat Indonesia.*

Share :

Baca Juga

Kejadian di Purwakarta

Hukum

Pelaku Tewaskan DO (21) Karawang Ditangkap Polisi

Daerah

Wako Alfin Sambut Tim Unilever, Perkuat Pengelolaan Sampah dan Edukasi Lingkungan di Sungai Penuh

Advertorial

Mitra Binaan PT Timah Tbk Friskila Natural Beauty Raih Prestasi UMKM Award Babel

Bangko

Fraksi-fraksi Dewan Berikan Pandangan Umum Terhadap R-APBD Merangin
Pemerintah akan menggelar sidang isbat 19 Maret 2026 untuk menetapkan Idulfitri 1447

Daerah

Pemerintah Gelar Sidang Isbat 19 Maret 2026, Tentukan Awal Syawal 1447 H

Daerah

Proses Evakuasi Jalur Udara Crew Helikopter dihentikan sementara

Daerah

Lemang Tapai Jadi Primadona Menu Berbuka Puasa

Bangko

Hingga Akhir 2026 Semua Kantor Camat di Merangin Dipastikan Teraliri Internet