Home / Daerah / Internasional / Nasional / News

Minggu, 28 Juni 2026 - 17:40 WIB

Aksi Jokowi Injak Kepala Kerbau, Pengamat: Bagian dari Ritual Adat, Bukan Sindir PDIP

Jakarta, http://Eksisjambi.com – Prosesi pemberian gelar adat kepada Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), saat kunjungan ke Lampung menjadi perhatian publik. Momen ketika Jokowi terlihat menginjak kepala kerbau dalam rangkaian ritual adat memunculkan berbagai interpretasi, termasuk dikaitkan dengan hubungan politiknya bersama PDI Perjuangan (PDIP).

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai bahwa prosesi tersebut perlu dipahami berdasarkan filosofi budaya masyarakat Lampung, bukan semata-mata melalui sudut pandang politik.

Menurutnya, ritual yang berlangsung di Kedatun Keagungan memang dapat memicu beragam tafsir di ruang publik. Namun, dalam tradisi adat Lampung, kerbau merupakan hewan yang memiliki kedudukan sakral.

“Foto Joko Widodo dalam prosesi pemberian gelar adat Lampung di Kedatun Keagungan dengan menginjak kepala kerbau tentu menimbulkan banyak tafsir. Namun kalau dilihat dari perspektif masyarakat Lampung, kerbau memang memiliki kedudukan sangat sakral,” ujar Jamiluddin, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa kepala dan tanduk kerbau melambangkan kemakmuran, kekuatan, status sosial yang tinggi, serta penghormatan kepada leluhur. Simbol tersebut lazim digunakan dalam prosesi penganugerahan kehormatan kepada tokoh sebagai bentuk legitimasi dan penghormatan dalam adat.

Lebih lanjut, Jamiluddin menerangkan bahwa tindakan menginjak kepala kerbau dalam ritual tersebut memiliki makna filosofis sebagai simbol membuang sifat buruk, kerendahan hati, serta kesiapan seorang pemimpin untuk mengayomi masyarakat di bawah naungan adat.

Baca Juga :  Desa Perintis Jadi Tuan Rumah MTQ Ke-XXXVI Tingkat Kecamatan Rimbo Bujang

Karena itu, ia menegaskan bahwa prosesi tersebut merupakan bagian dari tata cara adat yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Jamiluddin juga membantah anggapan yang mengaitkan ritual tersebut dengan konflik politik antara Jokowi dan PDIP.

“Jadi, Jokowi menginjak kepala kerbau tidak berkaitan dengan perseteruannya dengan PDIP. Bahkan jauh dari keinginan Jokowi untuk membuka perang terbuka dengan PDIP,” tegasnya.

Guntur Romli Kritik Tindakan Jokowi

Di sisi lain, Ketua DPP PDI Perjuangan, Guntur Romli, menyampaikan kritik terhadap dokumentasi prosesi tersebut. Ia menilai tindakan meletakkan kaki di atas kepala kerbau merupakan bentuk sikap yang tidak menghormati hewan kurban dalam tradisi adat.

Dalam foto yang beredar, Jokowi tampak duduk mengenakan pakaian adat dengan kaki kanannya berada di atas kepala kerbau yang telah diletakkan di atas kain di atas karpet merah.

Saat dimintai tanggapan mengenai dugaan simbolik terhadap logo PDIP, Guntur mengaku tidak mengetahui maksud di balik tindakan tersebut.

“Saya juga tidak tahu kalau maksudnya seperti itu, tapi biasanya kalau hewan yang dikurbankan itu dihormati, mau dengan acara adat sekalipun, bukan diinjak seperti itu,” katanya.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Blokir 394 Ribu Nopol karena Aktivitas Mencurigakan Pembelian BBM Subsidi

Guntur kemudian membandingkan perlakuan terhadap kerbau dalam berbagai tradisi Nusantara, termasuk di Toraja, yang menurutnya sangat menjunjung penghormatan terhadap hewan kurban.

“Misalnya kerbau di Toraja atau daerah-daerah lain kalau jadi bagian upacara, kepalanya atau tengkoraknya akan diabadikan dalam kehormatan dan kebanggaan, bukan dihinakan seperti yang dilakukan dengan kaki Jokowi seperti itu,” ujarnya.

Ia menilai tindakan tersebut mencerminkan sikap yang kurang tepat secara etika.

“Sikap Jokowi yang menginjak kakinya di atas kepala kerbau atau sapi itu bentuk kesombongan. Tapi biarkan rakyat yang menilai,” kata Guntur.

Meski demikian, Guntur menepis anggapan bahwa kerbau tersebut berkaitan dengan lambang partainya.

“Lagipula logo PDI Perjuangan itu banteng, bukan kerbau, bukan sapi. Banteng itu satwa yang dilindungi yang tidak mungkin dijadikan kurban atau tumbal,” tegasnya.

Ia pun menyerahkan penilaian atas peristiwa tersebut kepada masyarakat.

“Kalau Jokowi mau mengekspresikan kesombongannya, biarlah masyarakat yang menilai,” pungkasnya.

Peristiwa ini pun memunculkan perdebatan di ruang publik. Sebagian pihak menilai prosesi tersebut harus dipahami berdasarkan nilai-nilai budaya masyarakat Lampung, sementara pihak lain menyoroti aspek etika dari dokumentasi yang beredar. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan pentingnya memahami konteks adat sebelum menarik kesimpulan atas sebuah ritual budaya.**

Share :

Baca Juga

Sejarah Kerinci

Daerah

Sejarah Kerinci Diakui Dunia Melalui Bukti Ilmiah

Advertorial

Bupati H.Adirozal Berikan Manasik Haji dan Melepas Keberangkatan 428 JCH Kabupaten Kerinci

Daerah

Ketua IWO Krc-Supen : Jangan Giring Opini Rusak Reputasi Organisasi Kami

Daerah

Wako Ahmadi Sukses Lantik 12 Pejabat Eselon II

Advertorial

Pemkab Tanjabtim Buka Seleksi PPPK Lagi

Daerah

DPRD Tanjab Timur Gelar Paripurna Bahas Layanan Psikolog Klinis RSUD dan Penambahan Alat TB di Puskesmas
Siklon Tropis Senyar

Daerah

BMKG: Badai Senyar Resmi Punah, Cuaca Ekstrem di Sumatera Mulai Mereda

Daerah

Tiga Kebiasaan Ini Bikin Tekanan Darah Sulit Stabil