Home / Artikel / Daerah / Internasional / Nasional / Nasional / News

Rabu, 3 September 2025 - 10:44 WIB

Amoghapasa: Bukti Nyata Bhumi Malayu di Jantung Sumatra

Arca Amoghapasa

Arca Amoghapasa

Eksisjambi.com – Sudah saatnya sejarah di luruskan, Arca Amoghapasa beserta Prasasti Padang Roco (1208 Saka / 1286 M) bukanlah sekadar peninggalan arkeologis yang dingin dan bisu.

 Kedua artefak monumental itu adalah saksi nyata tentang keberadaan dan kejayaan Bhumi Malayu yang tumbuh di pedalaman Sumatra Tengah wilayah yang kini mencakup Sumatera Barat dan Jambi.

Namun, belakangan ini muncul arus narasi yang mencoba menggiring opini publik, seakan-akan warisan agung itu adalah milik Melayu pesisir ataupun Semenanjung.

 Klaim yang bukan saja melompati logika sejarah, tapi juga mengabaikan konteks geografis, kronologis, dan budaya.

Melayu Dharmasraya  – Jambi – Malayapura (Pagaruyung): Jejak kerajaan ini lahir dari rahim pedalaman Sumatra, sejak abad ke-7 hingga abad ke-14. Ia berakar kuat pada tradisi Hindu – Buddha sekaligus adat istiadat lokal yang tangguh.

Baca Juga :  Mubes Pemilihan DEMA IAIN Kerinci Sukses di Gelar.

Melayu pesisir dan Semenanjung: Baru berkembang ratusan tahun kemudian, pasca-Islamisasi, yakni setelah runtuhnya Kesultanan Melaka dan munculnya Kesultanan Johor pada abad ke-16 hingga 17.

Malayu kuno di pedalaman Sumatra: Identitasnya bercorak Hindu-Buddha, mandiri, berpijak pada tanah tinggi, dan menggantungkan hidup pada aliran sungai-sungai besar yang menghubungkan pedalaman dengan pesisir.

Melayu pesisir/Semenanjung: Tumbuh jauh belakangan, bernuansa Islam, berorientasi pada perdagangan maritim, dan penuh pengaruh asing: Portugis, Belanda, hingga kolonialisme Eropa.

Kesamaan bunyi bukan berarti kesamaan identitas, Malayu: lahir dari jantung Sumatra sejak abad ke-6, membangun peradaban sendiri dengan pusat kekuasaan di pedalaman.

Baca Juga :  Angin kencang dan Hujan Es landa Kecamatan Hamparan Rawang kota Sungai Penuh

Melayu: tumbuh kemudian di wilayah pesisir dan Semenanjung, dalam atmosfer sosial-budaya yang sepenuhnya berbeda, Arca Amoghapasa adalah bukti, Prasasti Padang Roco adalah saksi.

Dan Sumatra Tengah adalah panggung sejarah yang tak bisa di pindahkan ke tempat lain.

Sejarah bukan sekadar soal identitas, tetapi juga keadilan pada masa lalu. Bhumi Malayu kuno berdiri tegak di pedalaman Sumatra bukan di tepi pantai, bukan pula di seberang Semenanjung.

Kini, tugas generasi penerus adalah memastikan bahwa jejak tersebut tetap di pahami secara jernih: Bahwa Malayu adalah Sumatra, dan Sumatra adalah jantung dari peradaban yang pernah bersinar jauh sebelum dunia maritim Melayu pesisir lahir.(*)

 

Share :

Baca Juga

Daerah

Wawako Azhar Hamzah Ajak Pelajar Perkuat Wawasan Kebangsaan dan Tangkal Radikalisme

Daerah

Wako Ahmadi sambut Kunker Danrem 042/Gapu Jambi

Advertorial

Usai Pelantikan Bupati Dillah Beri Statement Tegas Kepada Para ASN
Fenomena “space jellyfish” yang viral di Indonesia

Daerah

Fenomena “Space Jellyfish” Hiasi Langit Indonesia, Ternyata Efek Peluncuran Roket China
Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 menjadi bukti astronomis ijtimak penentuan 1 Ramadhan 1447 H yang diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026.

Daerah

Fenomena Gerhana Matahari Cincin Jadi Bukti 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026

Advertorial

Pj. Bupati Asraf Ajak Paslon Ciptakan Pilkada Damai di Kerinci
KUHAP 2026

Daerah

Pemerintah Paparkan Pembaruan KUHP dan KUHAP Berlaku 2026

Advertorial

Pj.Bupati Asraf Lantik Pejabat Eselon III dan IV Berikut Nama