LIUYUN CITY, http://Eksisjambi.com – Senja perlahan menelan panas siang hari di Pegunungan Liuyun. Cahaya jingga matahari yang tersisa menembus celah awan, menghadirkan panorama indah yang kontras dengan kegelisahan seorang pemuda yang duduk bersila di puncak gunung.
Pemuda itu adalah Chu Linfeng, mantan jenius kebanggaan Keluarga Chu, salah satu dari Lima Keluarga Besar Liuyun City. Dengan mata terpejam dan kedua tangan di dada, ia mencoba menyerap Star Power dari langit malam yang bertabur bintang.
Jika di perhatikan dengan saksama, kilau cahaya bintang sempat menyelimuti tubuhnya, berpendar sesaat sebelum kemudian menghilang begitu saja.
“Kenapa… kenapa selalu seperti ini?” gumam Chu Linfeng dengan suara parau, penuh kepedihan dan amarah.
Selama dua tahun terakhir, Chu Linfeng tidak mampu menyerap Star Power meski telah mencapai Black Tortoise Realm (Xuanwu Realm) tahap yang seharusnya membuka lompatan besar dalam kekuatan dan kultivasi tubuh. Kondisi ini membuatnya tertinggal, bahkan dilampaui oleh rekan-rekan sebayanya.
Padahal, pada usia 14 tahun, ia pernah mencatat prestasi gemilang dengan menembus Spirit Martial Realm dan menjadi yang termuda mencapai Black Tortoise Realm di keluarganya.
Frustrasi memuncak. Tinju Chu Linfeng menghantam batang pohon besar di dekatnya. Kulit kayu terkelupas, namun darah segar justru mengalir dari tangannya yang remuk.
Rasa sakit fisik itu seolah menjadi satu-satunya pelarian dari luka di hatinya. Insiden Misterius yang Mengubah Takdir
Menurut ingatan Chu Linfeng, semua bermula dari sebuah insiden aneh dua tahun lalu saat ia berlatih Purple Nether Star Technique, teknik tingkat Yellow Rank milik keluarganya.
Saat itu, ia telah berhasil menyerap sedikit Star Power. Namun tiba-tiba, seberkas cahaya bintang menyilaukan melesat dari langit dan menghantam tubuhnya. Rasa sakit luar biasa menyerang pikirannya sebelum ia akhirnya pingsan.
Ketika sadar keesokan harinya, tubuhnya terasa hancur dan sejak saat itulah, Star Power tak lagi bisa ia pertahankan di dalam tubuh.
Tak hanya kehilangan kekuatan, Chu Linfeng juga harus menghadapi tekanan sosial yang berat. Statusnya sebagai “jenius” runtuh, digantikan ejekan dan hinaan.
Yang paling menyakitkan adalah perubahan perjodohan dengan Keluarga Lin, sekutu lama Keluarga Chu. Pertunangan yang semula ditujukan untuk Nona Kedua Lin, Lin Ziping, kini dialihkan kepada Nona Ketiga Lin, sosok yang dikenal luas memiliki rupa buruk dan menjadi bahan ejekan masyarakat.
“Aku lebih baik mati daripada menikahinya,” ucap Chu Linfeng lirih saat menatap langit malam.
Keesokan paginya, Chu Linfeng memberanikan diri datang ke Arena Latihan Bela Diri Keluarga Chu tempat yang dulu selalu ia datangi paling awal.
Namun kehadirannya justru memicu bisik-bisik sinis.
“Dua tahun di Xuanwu Realm tingkat pertama, masih saja berani muncul.”
“Cocoklah dia dengan nona Lin yang jelek itu.”
Ejekan demi ejekan menggema, hingga akhirnya Chu Linfeng menghadapi salah satu pelaku dengan tatapan tajam.
“Ulangi sekali lagi kalau berani,” katanya dingin.
Ancaman itu cukup untuk membuat lawannya gemetar.
Namun penghinaan terbesar datang dari Chu Linhai, sepupu sekaligus mantan pengikut setianya, yang kini telah mencapai Black Tortoise Realm tingkat kedua.
Dengan nada mengejek, Chu Linhai menyinggung pertunangan Chu Linfeng yang batal dan menyombongkan masa depannya bersama Lin Ziping.
Tawa keras Chu Linhai menggema, meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dari pukulan mana pun.
Meski meridian tubuhnya tak tersumbat dan Spiritual Power mengalir normal, Chu Linfeng tetap tak mampu memahami mengapa Star Power selalu menghilang begitu saja.
“Apakah aku benar-benar telah menjadi seorang pecundang?” batinnya.
Di tengah runtuhnya kejayaan, pertunangan yang dipaksakan, serta penghinaan tanpa henti, Chu Linfeng kini berdiri di persimpangan takdir antara menyerah pada nasib atau bangkit melawan ketidakadilan langit. Kisah sang mantan jenius Liuyun City pun masih jauh dari kata selesai.**







