Jejak Kaki Mungil Abadi di Bata Candi Muarajambi
Jambi, http://Eksisjambi.com – Sebuah jejak kecil dari masa lampau menyimpan kisah besar tentang kehidupan manusia di kawasan percandian Muarajambi. Cetakan kaki kanak-kanak yang terabadikan pada bata penyusun candi menjadi salah satu koleksi menarik perhatian dalam Museum Sriwijaya Dharmakirti di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi.
Koleksi tersebut menjadi sorotan saat pembukaan Museum Sriwijaya Dharmakirti yang di hadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.
Peresmian museum ini menampilkan beragam peninggalan bersejarah hasil penelitian di kawasan Muarajambi, mulai dari arca emas, porselin kuno, arca, hingga berbagai artefak yang merekam jejak peradaban masa lalu.
Di antara berbagai koleksi berharga itu, terdapat satu benda sederhana namun sarat makna, yakni cetakan kaki mungil seorang kanak-kanak yang di temukan pada bata struktur bangunan candi.
Jejak kecil tersebut menjadi pengingat bahwa di balik megahnya bangunan suci masa lalu, terdapat kisah manusia biasa yang pernah hidup, tumbuh, dan berkarya.
“Cetakan kaki kanak-kanak itu telah terabadikan ratusan tahun lamanya dalam struktur bata penyokong candi. Lantas mengapa justru kaki mungil itu yang di terakan untuk bangunan suci? Bukan kaki orang suci yang telah berusia matang?” tulis H. H. Sunliensyar dalam catatannya, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, pertanyaan tersebut membuka ruang pemahaman baru dalam dunia arkeologi. Selama ini, pembahasan tentang kehidupan kanak-kanak masih jarang mendapat perhatian, khususnya dalam kajian arkeologi di Indonesia.
Narasi sejarah sering kali lebih banyak menyoroti kejayaan kerajaan, tokoh besar, maupun pencapaian peradaban. Sementara kisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk anak-anak, kerap terpinggirkan.
Padahal, kehidupan manusia tidak hanya di bentuk oleh masa dewasa, tetapi juga melalui perjalanan panjang sejak masa kanak-kanak.
“Semua manusia pasti mengalami fase kanak-kanak sebelum menjadi manusia yang matang. Fase itu menjadi dasar pembentuk manusia lahir dan batin sebelum menginjak dewasa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, banyak tokoh besar dalam sejarah dunia juga melewati masa kanak-kanak sebelum mencapai peran penting dalam kehidupan.
Buddha Gautama, misalnya, melewati masa kanak-kanaknya sebelum mencapai pencerahan. Dalam tradisi Buddha, terdapat kisah bahwa setelah kelahirannya, sang Buddha berjalan tujuh langkah ke arah utara dan setiap jejak kakinya menumbuhkan bunga teratai.
Begitu pula Nabi Muhammad SAW yang menjalani masa kecil sebagai seorang yatim dan pernah di asuh oleh masyarakat Arab-Badui sebagai bagian dari perjalanan kehidupannya. Sementara Yesus juga melewati masa kanak-kanak dalam situasi bangsanya berada di bawah kekuasaan Romawi.
Jejak kaki mungil di bata Candi Muarajambi pun menghadirkan pesan bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang paling tua atau peradaban mana yang paling besar, tetapi juga tentang sisi kemanusiaan yang membentuk perjalanan sebuah masyarakat.
Cetakan kaki kecil yang tersimpan dalam bata candi menjadi pengingat bahwa anak-anak juga memiliki tempat dalam sejarah. Sebuah jejak sederhana yang bertahan ratusan tahun, namun mampu mengajak manusia masa kini merenungkan arti kehidupan, pertumbuhan, dan warisan peradaban.
Jambi, 1 Agustus 2026 Oleh : H. H. Sunliensyar







