Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Peristiwa

Rabu, 4 Februari 2026 - 09:52 WIB

Fakta Astronomi Satelit Bumi Perlahan Menjauh

fenomena astronomi

fenomena astronomi

JAKARTA, Eksisjambi.com – Langit malam yang selama ini tampak tenang ternyata menyimpan perubahan besar yang jarang di sadari manusia.

Bulan, satu-satunya satelit alami Bumi, perlahan menjauh dari planet kita setiap tahun. Fenomena ini bukan sekadar fakta astronomi, tetapi akan mengubah wajah langit dan menghilangkan salah satu peristiwa alam paling menakjubkan: Gerhana Matahari Total.

Perubahan ini terungkap lewat eksperimen ilmiah yang sudah berjalan sejak era misi Apollo. Pada akhir 1960-an, NASA menempatkan reflektor khusus di permukaan Bulan melalui program Lunar Laser Ranging Experiment.

Dengan memantulkan sinar laser dari Bumi ke Bulan dan menghitung waktu pantulannya, ilmuwan bisa mengukur jarak Bulan dengan presisi luar biasa.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Bulan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Angka ini terlihat kecil, tetapi dalam skala jutaan tahun, dampaknya sangat besar.

Penyebab utama fenomena ini adalah interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan, khususnya akibat pasang surut laut yang memperlambat rotasi Bumi dan mendorong Bulan menjauh.

Baca Juga :  Komisi II DPR RI Dorong PLBN Jadi Pusat Investasi di Papua Selatan

Fenomena ini juga memengaruhi durasi hari di Bumi. Dalam jangka panjang, rotasi Bumi akan semakin melambat, sehingga satu hari akan menjadi lebih panjang di bandingkan sekarang.

Saat ini, manusia masih bisa menikmati Gerhana Matahari Total karena ukuran tampak Bulan dan Matahari hampir sama jika di lihat dari Bumi. Hal ini terjadi karena Matahari berdiameter sekitar 400 kali lebih besar dari Bulan, tetapi juga berjarak sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi. Kombinasi inilah yang menciptakan ‘kebetulan kosmik’ yang sempurna.

Namun, seiring Bulan menjauh, ukuran tampaknya akan semakin mengecil. Akibatnya, Bulan tidak lagi mampu menutupi Matahari sepenuhnya. Gerhana yang tersisa di masa depan hanyalah gerhana cincin, di mana Matahari tampak seperti cincin api di langit.

Baca Juga :  Kode Redeem Free Fire Terbaru 28 Agustus 2026, Buruan Klaim Sekarang 

Menurut pernyataan ilmuwan NASA, Richard Vondrak, sekitar 600 juta tahun lagi Gerhana Matahari Total akan terjadi untuk terakhir kalinya di Bumi. Setelah itu, umat manusia-jika masih ada-tidak akan lagi menyaksikan langit gelap total di siang hari akibat tertutupnya Matahari oleh Bulan.

Sebagai perbandingan, sekitar 4 miliar tahun lalu, Bulan berada jauh lebih dekat dengan Bumi sehingga tampak tiga kali lebih besar di bandingkan sekarang. Saat itu, gerhana Matahari berlangsung lebih lama dan lebih sering.

Perubahan jarak Bulan mengingatkan kita bahwa alam semesta tidak pernah benar-benar diam. Meski proses ini berlangsung sangat lambat, dampaknya akan mengubah fenomena langit yang selama ini di anggap abadi.

Para ilmuwan terus memantau pergerakan Bulan melalui teknologi laser modern untuk memahami lebih jauh dampaknya terhadap rotasi Bumi, pasang surut laut, dan masa depan planet kita.**

Share :

Baca Juga

Daerah

Kode Promo Roblox Juni 2026 Masih Aktif, Klaim Item Gratis untuk Avatar
kode redeem ff terbaru hari ini

Daerah

Kode Redeem FF 10 Februari 2026: Buruan Klaim Hadiah Gratis!

Daerah

Kedatangan Utusan Luhah Tandai Dimulainya Rangkaian Ajun Arah Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh
Menko Polkam

Internasional

Menko Polkam : AI sebagai Tanggung Jawab Strategis Perkuat Politik dan Keamanan
Oleh: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Advertorial

Jalan sebagai Kehadiran Negara: Membangun Konektivitas, Menguatkan Kesejahteraan
HUT Ke-43 Pindad

Internasional

Pindad Gelar Lomba Tembak Pistol G2 Combat di HUT ke-43, Pererat Sinergi Industri dan Stakeholder
Hutama karya

Daerah

Hutama Karya Resmi Garap Tol Akses Patimban Paket II, Perkuat Nadi Logistik Nasional

Advertorial

Kasi Intel Kejari Tebo Masuk 3 Besar Adhyaksa Award 2024 Kategori Jaksa Inspiratif Pemberdayaan Masyarakat