Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Peristiwa

Kamis, 5 Februari 2026 - 12:54 WIB

Fenomena Gerhana Matahari Cincin Kembali Terjadi Pada 17 Februari 2026

Gerhana Matahari Cincin 2026

Gerhana Matahari Cincin 2026

http://Eksisjambi.com– Fenomena astronomi gerhana matahari cincin di jadwalkan kembali menyapa Bumi pada 17 Februari 2026. Peristiwa langit yang langka dan memukau ini terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada posisi segaris, namun ukuran piringan Bulan yang terlihat dari Bumi lebih kecil di bandingkan piringan Matahari.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut menyebabkan Bulan tidak mampu menutupi Matahari secara sempurna. Akibatnya, pada puncak gerhana akan tampak lingkaran cahaya terang di tepi Matahari yang menyerupai cincin api di langit, sehingga di kenal sebagai annular solar eclipse atau gerhana matahari cincin.

BMKG menjelaskan bahwa jalur utama gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 akan melintasi wilayah Antartika. Sementara itu, gerhana matahari sebagian dapat di saksikan di beberapa kawasan lain, seperti:

  • Afrika bagian selatan
  • Amerika Selatan
  • Madagaskar
  • Mauritius

Sayangnya, Indonesia tidak termasuk wilayah yang dapat mengamati fenomena ini, baik secara penuh maupun sebagian.

Baca Juga :  Ketua FKPPI Kabupaten Tebo Gelar Silaturahmi Bersama Pengurus Rayon FKPPI Rimbo Bujang

Pakar Astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk melihat gerhana matahari cincin 17 Februari 2026.

“Konfigurasi jalur gerhana hanya melewati wilayah Pasifik Selatan dan Antartika, sehingga tidak teramati dari Indonesia,” jelas Thomas.

Meskipun secara visual terlihat indah dan dramatis, gerhana matahari cincin justru memiliki risiko kerusakan mata yang lebih tinggi di bandingkan gerhana matahari total. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor utama: Matahari Tidak Pernah Tertutup Sepenuhnya

Pada gerhana matahari cincin, Matahari tetap memancarkan cahaya langsung sepanjang waktu, berbeda dengan gerhana total yang sepenuhnya menutup Matahari pada fase puncak.

Kondisi cahaya yang meredup membuat mata terasa lebih nyaman untuk menatap Matahari, padahal radiasi ultraviolet (UV) dan inframerah tetap kuat dan dapat merusak retina tanpa di sadari.

Baca Juga :  Gempa Susulan Flores M7,7 Terus Bertambah, Capai 12.792 Kejadian hingga 6 September 2026

Paparan sinar Matahari langsung, meskipun hanya beberapa detik, dapat menyebabkan solar retinopathy, yaitu kerusakan permanen pada retina yang berujung pada gangguan penglihatan jangka panjang.

Karena itu, para ahli astronomi dan kesehatan mata melarang keras melihat gerhana matahari cincin dengan mata telanjang, tanpa pelindung khusus.

BMKG dan para pakar astronomi mengingatkan bahwa setiap pengamatan gerhana matahari harus menggunakan alat pelindung khusus, seperti kacamata gerhana bersertifikat internasional atau metode proyeksi tidak langsung.

Meskipun Indonesia tidak dapat menyaksikan langsung fenomena ini, masyarakat tetap di imbau untuk mengikuti informasi astronomi dari sumber resmi dan tidak mudah terpengaruh oleh mitos yang beredar terkait gerhana matahari.

Fenomena gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 menjadi pengingat bahwa keindahan alam semesta selalu datang berdampingan dengan risiko yang perlu di pahami secara ilmiah.**

Share :

Baca Juga

Daerah

Sekda Alpian Buka Raimuna Pramuka Kwarcab Sungai Penuh

Nasional

Akpol Gelar Baksos di Dinas Sosial Rumah Perlindungan Lanjut Usia

Daerah

Rekrutmen PPS Di Sarolangun Dinilai Hanya Formalitas

Daerah

Matto!!! Lanjutkan 2 Periode Cocok Untuk AZ-FER

Daerah

Ketua DPRD Jambi Dorong Percepatan Jalan Khusus Batu Bara
Samsung Galaxy S26 Ultra

Daerah

Samsung Galaxy S26 Ultra Resmi Diumumkan,Hadirkan Privacy Display 
Kerinci Highland Trail Run 2025

Advertorial

Kerinci Highland Trail Run 2025 Siap Guncang Bukit Kayu Aro, Tabola Bale Jadi Bintang Tamu Spesial

Advertorial

Ketua DPRD Kota Sungai Penuh Hadiri Pengukuhan PP3D Periode 2024-2029