Panengahan,http://Eksisjambi.com – Praktik ilmu pengasihan kembali menjadi sorotan publik setelah beredar metode yang di klaim sebagai “tingkat tinggi” dan dapat langsung di praktikkan oleh siapa saja. Ilmu yang di sebut berasal dari tradisi Jawa ini di sebut memiliki kekuatan besar meski hanya menggunakan mantra pendek.
Dalam praktik yang beredar, pelaku di anjurkan melakukan penyelarasan batin selama tujuh malam berturut-turut. Ritual tersebut di lakukan setelah menunaikan salat hajat, sebagai bentuk ikhtiar spiritual sebelum mengamalkan mantra.
Adapun mantra yang di gunakan berbunyi:
“Sirr roso tresno wong sakbuono tumancep ing pasuryanku.”
Mantra tersebut di baca sebanyak 111 kali setiap malam. Setelah selesai membaca, pelaku di minta meniupkan napas sebanyak tiga kali ke kedua telapak tangan, kemudian mengusapkannya ke wajah sebanyak tiga kali.
Metode ini di klaim memiliki berbagai manfaat, di antaranya meningkatkan daya tarik melalui pandangan mata, memikat seseorang dari jarak jauh, hingga mempengaruhi sikap orang lain seperti pasangan, rekan kerja, bahkan atasan.
Meski demikian, praktisi spiritual mengingatkan bahwa praktik semacam ini termasuk dalam ranah kepercayaan dan budaya yang tidak dapat di buktikan secara ilmiah. Mereka juga menekankan pentingnya niat yang baik serta tidak menyalahgunakan ilmu untuk merugikan orang lain.
Di sisi lain, kalangan masyarakat modern cenderung menyikapi fenomena ini dengan beragam pandangan. Sebagian menganggapnya sebagai warisan budaya yang patut di lestarikan, sementara lainnya memilih pendekatan rasional dalam membangun hubungan sosial.
Hingga kini, praktik ilmu pengasihan masih menjadi bagian dari tradisi spiritual yang hidup di tengah masyarakat, meskipun keberhasilannya kembali pada keyakinan masing-masing individu.**







