http://Eksisjambi.com– Kemampuan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan pesawat amfibi menjadi perhatian di kawasan Asia Tenggara. Saat ini, Thailand dan Malaysia menjadi dua negara ASEAN yang di ketahui memiliki kemampuan aerial water-bombing atau pengeboman air dari udara untuk mendukung penanganan kebakaran.
Angkatan Udara Kerajaan Thailand atau Royal Thai Air Force (RTAF) mengoperasikan pesawat Besler BT-67 yang di gunakan untuk berbagai misi, termasuk penyemaian awan (cloud seeding) dan operasi pemadaman kebakaran. Sementara Malaysia mengandalkan pesawat amfibi multi-peran Bombardier CL-415MP.
Pesawat CL-415MP milik Malaysia memiliki kemampuan khusus karena tidak hanya mampu melakukan water scooping atau mengambil air langsung dari permukaan laut maupun danau, tetapi juga melakukan water bombing dengan menjatuhkan air ke lokasi kebakaran. Selain itu, pesawat tersebut di lengkapi sistem pengawasan maritim sehingga dapat di gunakan untuk patroli laut.
Sebelumnya, Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) pernah mengoperasikan dua unit CL-415MP untuk misi patroli maritim dan pemadaman kebakaran. Namun jumlah tersebut kini berkurang menjadi satu unit setelah pesawat M71-02 di pensiunkan.
Pesawat M71-02 pernah menjadi sorotan regional ketika di kerahkan membantu penanganan kebakaran hutan di Sumatera pada 2015. Dalam operasi selama 36 jam yang mencakup wilayah sekitar 157 kilometer persegi, pesawat tersebut di laporkan mampu menjatuhkan sekitar satu juta liter air melalui 36 kali penerbangan.
Kemampuan CL-415MP Malaysia kembali menjadi perhatian setelah kebakaran lahan akibat pembukaan kawasan di Kalimantan semakin meluas. Pemerintah Indonesia akhirnya memberikan izin bagi bantuan dari luar negeri untuk mendukung penanganan bencana tersebut.
Namun, kemungkinan pengerahan CL-415MP milik Malaysia masih belum pasti karena pemerintah Indonesia di sebut hanya memberikan persetujuan untuk operasi penyemaian awan.
Untuk operasi udara lainnya, opsi yang mungkin di gunakan adalah armada pesawat C-130H milik Tentera Udara Di raja Malaysia (TUDM) yang juga memiliki pengalaman dalam operasi sejenis.
Meski memiliki kemampuan tinggi, pesawat amfibi seperti CL-415MP membutuhkan biaya perawatan yang besar dan cukup kompleks, terutama akibat aktivitas pengambilan air langsung dari permukaan (water scooping) yang dapat mempercepat keausan komponen.
Setelah memasuki tahun ke-17 masa operasional, satu-satunya CL-415MP Malaysia yang tersisa, M71-01, nantinya akan di dukung dengan pengadaan pesawat patroli maritim sayap tetap baru untuk memperkuat kemampuan pengawasan laut negara tersebut.
Pesawat CL-415MP di kenal sebagai salah satu aset strategis dalam menghadapi bencana kebakaran karena mampu bergerak cepat, mengambil air tanpa harus kembali ke pangkalan, serta menjangkau wilayah yang sulit di akses melalui jalur darat.
Video dokumentasi yang beredar berasal dari arsip kegiatan Armada Open Day Tentera Laut Di raja Malaysia (TLDM) tahun 2022, yang memperlihatkan kemampuan pesawat amfibi tersebut dalam mendukung berbagai operasi udara dan maritim.*







