JAKARTA ,Eksisjambi.com – Dalam kehidupan modern, banyak orang yang dikagumi karena kepintaran, prestasi akademik, maupun penguasaan ilmu pengetahuan. Namun, kecerdasan semata ternyata belum menjamin seseorang mampu memahami jalan menuju Allah SWT.
Ilmu sejati dalam pandangan Islam bukanlah sekadar tumpukan teori atau kumpulan kata dalam buku, melainkan cahaya yang menuntun hati untuk dekat kepada Sang Pencipta.
Hal ini tercermin dalam doa yang sering dipanjatkan para ulama: “Allahumma faggihnii fiddün” – Ya Allah, berikanlah aku pemahaman mendalam dalam agama-Mu.
“Doa ini menunjukkan bahwa kecerdasan manusia tetap memiliki batas. Tanpa bimbingan Allah, akal bisa keliru, hati bisa gelap, dan langkah bisa tersesat,” ujar ustadz Azimi, Selasa (3/9/2025).
Ia menegaskan, doa adalah pengakuan sekaligus kebutuhan mendasar manusia untuk terus di bimbing oleh Allah. Pemahaman agama bukan semata hasil dari membaca dan belajar, melainkan juga karunia yang di turunkan langsung melalui hidayah-Nya.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda yang sering terjebak pada glorifikasi kecerdasan intelektual. “Tidak salah mengejar prestasi akademik, tapi jangan lupa, ilmu yang tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah hanyalah kesombongan kosong,” tambahnya.
Pesan ini sekaligus mengajak masyarakat agar tidak hanya mengejar kepintaran duniawi, tetapi juga menyeimbangkannya dengan doa, ibadah, dan kerendahan hati di hadapan Allah SWT.
Karena sejatinya, ilmu yang benar adalah ilmu yang menyinari hati dan menuntun langkah menuju kebaikan dunia serta keselamatan akhirat.(*)







