Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:25 WIB

“Pesta Babi” Ungkap Dampak PSN di Papua Selatan, Soroti Konflik Lahan hingga Militerisasi

Oplus_131072

Oplus_131072

Papua,http://Eksisjambi.com – Film dokumenter investigatif berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan publik setelah menampilkan berbagai persoalan yang di sebut muncul akibat pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan.

Film ini mengangkat isu deforestasi, perampasan tanah adat, hingga dugaan militerisasi yang di alami masyarakat adat di sejumlah wilayah Papua.

Dokumenter berdurasi 95 menit tersebut merupakan karya jurnalis dan pembuat film Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale. Produksi film di lakukan melalui kolaborasi antara Watchdoc, Jubi Media, dan Greenpeace Indonesia.

Film ini mendokumentasikan perjuangan masyarakat adat dari suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu dalam mempertahankan tanah leluhur mereka di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, yang kini masuk kawasan Papua Selatan.

Kawasan tersebut menjadi bagian dari pengembangan proyek pangan dan bioetanol berskala besar yang masuk dalam program PSN pemerintah.

Dalam film tersebut, penonton diperlihatkan kondisi hutan Papua yang mengalami perubahan akibat pembukaan lahan skala besar. Dokumenter juga menyoroti dampak sosial yang di rasakan masyarakat adat, mulai dari hilangnya ruang hidup hingga perubahan pola kehidupan tradisional yang telah di wariskan turun-temurun.

Baca Juga :  Komisi III DPR RI Kunjungi Polda Jambi, Bahas Pengawasan Kinerja dan Kesiapan Penerapan KUHP Baru

Selain itu, “Pesta Babi” menampilkan kekhawatiran masyarakat terkait keberadaan aparat keamanan di sekitar area proyek. Film ini menggambarkan situasi yang oleh para pembuatnya di sebut sebagai bentuk tekanan terhadap masyarakat adat yang menolak atau mempertanyakan proyek pembangunan.

Judul “Pesta Babi” sendiri di ambil dari tradisi budaya Awon Atatbon milik suku Muyu. Tradisi tersebut memiliki makna penting dalam kehidupan sosial masyarakat adat dan di gunakan sebagai simbol perlawanan terhadap ancaman hilangnya identitas budaya.

Sejak mulai di putar di berbagai kota di Indonesia pada 2026, dokumenter ini memicu perdebatan publik. Sejumlah agenda pemutaran di laporkan mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh aparat maupun kelompok tertentu.

Peristiwa tersebut menuai kritik dari berbagai kalangan pegiat hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi. Mereka menilai pembubaran pemutaran film dokumenter bertentangan dengan prinsip demokrasi dan hak warga untuk memperoleh informasi.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Prioritaskan Program Tani Merdeka 

Di sisi lain, isu mengenai proyek pangan nasional di Papua memang terus menjadi perhatian publik karena menyangkut keseimbangan antara pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, perlindungan lingkungan, dan hak masyarakat adat.

Film “Pesta Babi” hadir di tengah meningkatnya perhatian terhadap berbagai proyek strategis di Papua Selatan. Pemerintah sebelumnya menyebut proyek pangan dan bioenergi di wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Namun sejumlah organisasi lingkungan dan kelompok masyarakat sipil menilai proyek skala besar berpotensi mempercepat deforestasi serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat apabila tidak di lakukan dengan perlindungan hak yang memadai.

Melalui pendekatan dokumenter investigatif, film ini mencoba membuka ruang diskusi mengenai masa depan tanah adat Papua dan arah pembangunan nasional di wilayah timur Indonesia.**

Share :

Baca Juga

Kuota internet kini tak lagi hangus

Daerah

Kuota Internet Tak Lagi Hangus, Dampak Tekanan Publik dan Gugatan MK?

Advertorial

BUPATI ADIROZAL TAKJUB DENGAN KERJA ANGGOTA TMMD KODIM KERINCI
Gunung Malintang

Artikel

Gunung Malintang Ujung Gading, Pesona Alam di Sumatera Barat

Bangko

Sinergitas TNI-POLRI, Dandim Sarko Bersama Kapolres Merangin Dampingi Kunjungan Kerja Kapolda Jambi
Bangunan Parkir Roboh

Nasional

Sebuah Bangunan Di Jakarta Utara Ambruk

Daerah

Gubernur Al Haris Buka Resmi MTQ Ke-51 Tingkat Provinsi Jambi di Kota Sungai Penuh
redeem FC Mobile terbaru

Daerah

Kode Redeem FC Mobile Terbaru Januari 2026, Klaim Gems hingga Pemain OVR 89+

Advertorial

Kadis PUPR Maya Novefry Pantau  Pembersihan Material Longsor di Jujun