Jawa Barat, http://Eksisjambi.com – Keris merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang memiliki nilai sejarah, seni, dan filosofi tinggi. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa wilayah Jawa Barat dan Banten juga memiliki tradisi keris yang berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan Sunda hingga Kesultanan Banten.
Sejumlah pemerhati budaya menilai warisan keris khas Sunda dan Banten kini kurang di kenal masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah berkembangnya anggapan keliru yang menyamakan budaya Sunda hanya dengan alat pertanian seperti kujang, sehingga keberadaan keris Sunda perlahan terlupakan.
Padahal, berdasarkan berbagai kajian sejarah, kalangan bangsawan dan elite kerajaan di Tatar Sunda pada masa lampau juga memiliki keris sebagai bagian dari identitas, simbol status sosial, hingga perlengkapan upacara. Tradisi tersebut turut berkembang di Kesultanan Banten yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan budaya dan peradaban Jawa, khususnya pada masa Islam.
Meski mendapat pengaruh dari tradisi perkerisan di Pulau Jawa, keris-keris asal Jawa Barat dan Banten kemudian berkembang dengan karakteristik tersendiri. Perbedaan dapat terlihat dari bentuk bilah, pamor, hingga ragam hias pada warangka yang mencerminkan estetika khas masyarakat Sunda dan Banten.
Para kolektor dan peneliti tosan aji menyebut keris Sunda maupun Banten memiliki nilai artistik yang tinggi. Keindahannya di nilai tidak kalah di bandingkan keris dari daerah lain seperti Bali maupun Palembang, yang juga berkembang melalui pengaruh tradisi perkerisan Jawa.
Selain sebagai senjata tikam, keris pada masa lalu berfungsi sebagai simbol kehormatan, legitimasi kekuasaan, pusaka keluarga, hingga benda spiritual yang di wariskan dari generasi ke generasi.
Para pegiat pelestarian budaya berharap keberadaan keris Sunda dan Banten dapat kembali di perkenalkan kepada masyarakat melalui penelitian, pameran, pendidikan, serta dokumentasi sejarah yang lebih luas. Upaya tersebut di nilai penting agar kekayaan budaya Nusantara tidak hilang di telan waktu maupun akibat kesalahpahaman terhadap sejarahnya.
Perlu di pahami bahwa sejarah perkerisan di Nusantara berkembang secara dinamis melalui interaksi antarkerajaan dan budaya.
Karena itu, pelestarian keris Sunda dan Banten di harapkan dapat di lakukan berdasarkan kajian sejarah dan arkeologi yang objektif sehingga kekayaan budaya tersebut tetap lestari bagi generasi mendatang.*







