Jakarta, Eksisjambi.com – Sedekah merupakan salah satu amalan mulia dalam Islam yang tidak hanya membawa manfaat bagi orang lain, tetapi juga menjadi bekal berharga bagi seorang Muslim di akhirat. Harta yang disedekahkan dengan ikhlas karena Allah SWT dijanjikan pahala berlipat ganda dan menjadi bagian dari amal kebaikan yang pahalanya dapat terus mengalir.
Pesan tersebut menjadi inti khutbah Jumat bertema “Sedekah: Bekal yang Tidak Pernah Hilang” yang disampaikan Abidz Shah. Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, memperbanyak amal saleh, serta membiasakan diri berbagi kepada sesama.
Harta yang Disedekahkan Menjadi Bekal Akhirat
Dalam khutbah pertama, Abidz Shah mengingatkan bahwa setiap Muslim hendaknya senantiasa menjaga hubungan dengan Allah SWT, memperbanyak ketaatan, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Menurutnya, manusia sering kali menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengumpulkan harta. Ada yang bekerja sejak muda hingga tua, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan bersama, yakni untuk siapa harta yang dikumpulkan tersebut dan bagaimana harta itu digunakan selama hidup di dunia.
Ketika seseorang meninggal dunia, rumah, kendaraan, sawah, tabungan, dan berbagai kekayaan lainnya akan ditinggalkan. Karena itu, umat Islam diingatkan agar tidak hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi juga memanfaatkannya untuk beribadah dan membantu sesama.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Ayat tersebut menjelaskan besarnya keutamaan berinfak di jalan Allah. Sedekah yang diberikan dengan ikhlas bukanlah kerugian, melainkan investasi amal yang pahalanya dapat dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Abidz Shah juga mengingatkan bahwa sebagian orang masih merasa khawatir hartanya berkurang ketika digunakan untuk bersedekah. Padahal, Islam mengajarkan bahwa sedekah merupakan salah satu jalan untuk meraih keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam Surah Saba’ ayat 39, Allah SWT berfirman bahwa apa pun yang diinfakkan manusia, Allah akan menggantinya dan Dia merupakan sebaik-baik pemberi rezeki.
Pesan tersebut diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).
Melalui pesan itu, umat Islam diajak untuk memahami bahwa keberkahan hidup tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Kekayaan yang melimpah belum tentu menghadirkan ketenangan, sedangkan harta yang sederhana dapat menjadi sumber kebahagiaan apabila disertai rasa syukur, keikhlasan, dan keberkahan.
Khatib mengajak jamaah agar tidak bersedih ketika sebagian hartanya digunakan untuk membantu orang lain. Sebaliknya, setiap Muslim hendaknya khawatir apabila memiliki kesempatan berbuat baik, tetapi tidak memanfaatkannya untuk beramal.
Harta yang disimpan pada akhirnya dapat diwariskan kepada ahli waris. Sementara itu, sedekah yang diberikan dengan ikhlas menjadi bagian dari amal kebaikan yang diharapkan mendatangkan pahala di sisi Allah SWT.
Sedekah Bukan Hanya untuk Orang Kaya
Dalam khutbahnya, Abidz Shah menegaskan bahwa sedekah bukanlah amalan yang hanya dapat dilakukan oleh orang kaya. Setiap Muslim memiliki kesempatan untuk bersedekah sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Nilai sedekah tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya nominal, tetapi juga oleh keikhlasan, niat, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut mengingatkan pentingnya mempersiapkan amal yang manfaatnya dapat terus dirasakan, termasuk sedekah jariyah.
Tidak semua orang mampu membangun masjid, membiayai pesantren, atau membantu banyak orang sekaligus. Namun, setiap orang dapat mengambil bagian dalam kebaikan melalui bantuan kecil yang diberikan secara tulus.
Memberi makan orang yang membutuhkan, membantu tetangga yang kesulitan, menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan umat, serta mendukung kegiatan pendidikan dan keagamaan merupakan contoh perbuatan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas diharapkan menjadi bekal ketika seseorang menghadap Allah SWT kelak.
Mengajak Umat Membiasakan Sedekah
Menutup khutbah pertama, Abidz Shah mengajak jamaah untuk mulai membiasakan diri bersedekah sejak sekarang, tanpa harus menunggu memiliki kekayaan berlimpah.
Menurutnya, sedekah merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus wujud ketaatan kepada Allah SWT. Dengan berbagi, umat Islam tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian di tengah masyarakat.
Ia juga mengajak umat Islam untuk senantiasa berdoa agar diberikan kemudahan dalam menjalankan kebaikan, keberkahan dalam rezeki, serta kemampuan untuk menggunakan harta di jalan yang diridai Allah SWT.
Doa untuk Keberkahan Rezeki
Dalam khutbah kedua, khatib kembali mengingatkan pentingnya ketakwaan, memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta memohon ampunan bagi kaum Muslimin dan Muslimat.
Doa juga dipanjatkan agar umat Islam menjadi hamba-hamba yang gemar bersedekah dan berinfak, memiliki tangan yang ringan dalam membantu sesama, serta diberikan rezeki yang halal dan berkah.
Selain itu, khatib memohon agar Allah SWT senantiasa melindungi Indonesia dan seluruh negeri Muslim dari berbagai musibah, wabah, bencana, serta fitnah yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan amal kebaikan merupakan bekal yang diharapkan membawa keselamatan di akhirat.
Pesan utamanya, jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Mulailah dari kemampuan yang ada, lakukan dengan ikhlas, dan jadikan berbagi sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, harta yang disedekahkan karena Allah bukan sekadar sesuatu yang dilepaskan, melainkan bekal amal yang diharapkan menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat.*
Oleh: Abidz Shah







