Home / Daerah / Nasional / Nasional / News / Peristiwa / Sosbud

Jumat, 2 Mei 2025 - 13:25 WIB

Luka Lama Proletariat Dibalik Wajah Baru Kapitalisme

Oleh: Diori Antomi.

1 Mei sebagai peringatan hari buruh internasional bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan pengingat atas sejarah panjang perjuangan kelas pekerja proletariat yang sejak abad ke-19 telah menuntut hak-hak buruh dalam sistem yang menindas. Sejak saat itu, perjuangan buruh menjadi cikal bakal perlawanan terhadap sistem kapitalisme yang menghisap tenaga tanpa memberi perlindungan yang setara.

Namun apakah perjuangan itu telah selesai? Jawabannya: belum. Proletariat hari ini masih menghadapi bentuk penindasan yang lebih elegan tapi dengan cara yang sistemik.
Kita perlu lebih dari sekadar simbolis dalam memperingati perjuangan buruh. Perjuangan proletariat hari ini bukan hanya menghadapi kekuatan ekonomi, tapi juga sistem politik yang belum sepenuhnya berpihak.

Moment ini menjadi refleksi untuk membuka mata terhadap realitas sosial yang tak kunjung berubah, bahkan mungkin memburuk. Proletariat hari ini bukan hanya mereka yang memeras keringat di pabrik, tapi juga mereka yang bekerja sepanjang hari untuk bertahan hidup. Di tengah modernisasi, bentuk penindasan berubah, tapi esensinya masih sama.

Baca Juga :  DPRD H.Muh.Sjafril Simamora,S.H Serap Aspirasi Masyarakat

Hanya untuk mengucap Selamat hari buruh saja kita masih merasa pilu, karena tidak ada buruh yang benar-benar selamat dalam belenggu kapitalisme.

Justru hal ini menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh adalah perjuangan semua orang karena siapa pun yang menjual tenaga dan waktunya demi hidup, adalah bagian dari kelas pekerja. Selama ketimpangan, ketidakpastian, dan ketidakadilan masih terjadi, maka perjuangan proletariat belum selesai.
Perjuangan proletar hari ini tak hanya soal upah atau jam kerja, tetapi tentang hak untuk hidup layak di tengah sistem yang membuat si kaya makin kaya, dan si miskin dipaksa bekerja lebih keras untuk sekadar bertahan.

Kesenjangan sosial dan ekonomi hari ini bukan kebetulan. Ia adalah konsekuensi langsung dari sistem yang bertumpu pada akumulasi modal, bukan kesejahteraan manusia.

Sejarah mencatat, proletariat tak pernah benar-benar diam. Perlawanan lahir dari kesadaran. Buruh kembali membangun solidaritas, menuntut sistem yang adil, distribusi kekayaan, dan pengakuan terhadap kerja-kerja informal. Perjuangan melawan kesenjangan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang martabat manusia..

Baca Juga :  Presiden Prabowo Pimpin Ratas, Proyek Giant Sea Wall Jadi Fokus Strategis Nasional

Perjuangan ini bukan nostalgia, melainkan kelanjutan dari narasi panjang melawan eksploitasi yang kini mengambil wajah-wajah baru.

Sejak revolusi industri, kapitalisme telah menciptakan dunia yang penuh kemajuan, tetapi dibangun di atas penderitaan kelas pekerja. Kapitalisme hanya mengenal keuntungan,

keuntungan, dan keuntungan. Dalam sistem ini, manusia bukan subjek utama, melainkan komoditas tenaga yang diperjualbelikan, waktu yang diukur, bahkan hidup yang ditakar.
Kapitalisme hari ini bahkan lebih licik dari masa lalu. Ia mengenakan wajah modern, tetapi tetap memeras dengan cara lama Inilah wajah baru

kapitalisme: sistem yang menjanjikan kebebasan, tetapi justru memperbudak dalam diam. Ia menciptakan ilusi pilihan, padahal pilihan itu dikunci oleh kebutuhan hidup.

Kapitalisme tidak akan berubah wajahnya, kecuali dipaksa oleh kekuatan kolektif rakyat pekerja. Maka perjuangan proletariat hari ini adalah tugas sejarah untuk melawan bukan hanya upah murah, tapi seluruh sistem yang menjadikan manusia sekadar alat produksi.

“semangat proletariat tak boleh mati, di negeri yang semakin gelap.”.(*)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Sekda Sudirman : Garda Juang Tingkatkan Kontribusi bagi Pembangunan Jambi

Daerah

Ketua DPR RI Dorong Penguatan Perlindungan WNI Usai Gempa di Venezuela, Jepang, dan California
Maulid Nabi Muhammad Saw

Daerah

Maulid Nabi, Tradisi Penuh Nilai dan Hikmah

Advertorial

Buka Festival Batanghari Gubernur Alharis : Upaya Kampanye Sungai Batanghari Bersih

Advertorial

Wako Alfin Ajak BKMT Peduli Lingkungan Sebagai Bagian Dakwah Islam

Daerah

Jadwal Piala Dunia 2026 Jumat Dini Hari hingga Pagi 

Daerah

Panitia Masjid Agung Taqwa Darul Iman Kecamatan Mendahara Terima Sapi Kurban Bantuan Presiden RI

Advertorial

KPU Tebo Akan Gelar Debat Publik Pertama Cabup & Cawabup Pilkada 2024