PADANG, http://Eksisjambi.com– Jalur Sitinjau Lauik yang selama puluhan tahun di kenal sebagai lintasan ekstrem dengan tanjakan curam dan tikungan tajam, kini bersiap memasuki babak baru. Pemerintah melalui proyek strategis nasional Flyover Sitinjau Lauik berupaya menghapus stigma “jalur maut” pada ruas vital penghubung Kota Padang–Solok, Sumatera Barat.
Proyek ambisius ini di garap melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dengan PT Hutama Karya (Persero) sebagai kontraktor pelaksana. Kehadirannya di harapkan mampu meningkatkan keselamatan, efisiensi transportasi, sekaligus memperkuat konektivitas logistik lintas Sumatera.
Pembangunan flyover Sitinjau Lauik di latarbelakangi kondisi geografis kawasan yang sangat ekstrem. Jalur sepanjang sekitar 53 kilometer ini merupakan bagian dari lintas utama Sumatera yang menghubungkan Padang dengan wilayah Jambi hingga Pulau Jawa, dengan kemiringan jalan di sejumlah titik mencapai 45 derajat.
Berdasarkan data Polresta Padang, sedikitnya 50 kecelakaan lalu lintas tercatat terjadi dalam rentang 2016–2020, mayoritas di sebabkan truk gagal menanjak maupun mengalami rem blong.
Untuk menjawab persoalan tersebut, flyover ini di rancang dengan perbaikan signifikan pada aspek geometrik jalan, antara lain:
Gradien jalan di turunkan drastis dari sekitar 26 persen menjadi hanya 8 persen.
- Radius tikungan di perlebar dari 15 meter menjadi 95 meter.
- Lebar badan jalan di rancang 2 x 3,5 meter, di lengkapi bahu jalan dan trotoar.
- Perubahan ini di yakini mampu meningkatkan keselamatan pengguna jalan, khususnya kendaraan berat.
Gagasan pembangunan Flyover Sitinjau Lauik sejatinya telah muncul sejak 2012, namun sempat tertunda akibat berbagai kendala, termasuk pendanaan.
Dorongan kuat kembali muncul pada periode 2019–2021, seiring perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan kunjungan sejumlah menteri ke lokasi.
Pandemi COVID-19 sempat membuat proyek ini terancam batal pada pertengahan 2021. Namun, komitmen pemerintah kembali menguat pada akhir 2022.
Menteri BUMN Erick Thohir bersama Anggota DPR RI Andre Rosiade secara aktif mengawal proyek ini hingga akhirnya masuk dalam daftar Proyek Prioritas Utama RPJMN.
Proyek Flyover Sitinjau Lauik terbagi dalam dua segmen utama:
1. Panorama 1, yang menjadi fokus pembangunan saat ini, dengan nilai investasi sekitar Rp2,79 triliun. Segmen ini memiliki panjang jalan sekitar 2,78 kilometer dan mencakup pembangunan empat jembatan layang.
2. Panorama 2, di rencanakan melalui perbaikan geometri jalan secara parsial dengan estimasi investasi sekitar Rp2,051 triliun.
Pemerintah menerapkan skema Availability Payment (AP), di mana pengembalian investasi kepada badan usaha di lakukan secara berkala berdasarkan ketersediaan layanan selama masa konsesi 12,5 tahun.
Setelah melalui proses lelang ketat, PT Hutama Karya (Persero) resmi di tetapkan sebagai pemenang tender pada 18 Oktober 2024. Tahapan administrasi berlanjut dengan penandatanganan perjanjian KPBU pada Maret 2025.
Puncaknya, pada 3 Mei 2025, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meresmikan di mulainya konstruksi melalui seremoni groundbreaking di kawasan Lubuk Paraku, Kota Padang.
Flyover ini di rancang menggunakan teknologi tahan gempa, menyesuaikan dengan kondisi geologis Sumatera Barat yang rawan aktivitas seismik.
Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik bukan sekadar proyek fisik, melainkan infrastruktur strategis yang menjadi urat nadi perekonomian. Kelancaran jalur ini akan mempercepat distribusi barang dari wilayah selatan Sumatera, menekan biaya logistik, serta mencegah inflasi akibat terhambatnya arus barang.
Selain itu, kehadiran jembatan layang ini di harapkan meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus menjadi ikon baru pariwisata Sumatera Barat, menawarkan perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan panoramik.**







