Jakarta, http://Eksisjambi.com – Pemerintah Indonesia menargetkan penghentian total impor solar mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi besar mewujudkan kemandirian energi nasional.
Kebijakan tersebut di sampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menyebut kebutuhan bahan bakar di masa depan akan di penuhi dari sumber energi dalam negeri, terutama melalui pemanfaatan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Menurut Amran, langkah penghentian impor bahan bakar fosil merupakan bagian dari visi besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Pernyataan tersebut di sampaikan Amran saat memberikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya menargetkan penghentian impor solar, tetapi juga impor bensin dalam beberapa tahun mendatang.
“Nantinya 100 persen enggak ada impor, bensinnya dari sawit, solarnya dari sawit. Inilah kita di ganggu terus,” ujar Amran.
Amran menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Potensi tersebut di nilai mampu menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional melalui pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit.
Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dalam pengembangan teknologi pengolahan sawit menjadi bahan bakar bensin. Teknologi ini memungkinkan CPO tidak hanya di olah menjadi biodiesel, tetapi juga menjadi biogasolin atau bensin berbasis sawit.
Salah satu inovasi yang telah di kembangkan adalah Benwit RON 90, produk bensin berbahan baku sawit yang di klaim memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan energi nasional.
Saat ini pemerintah telah menjalankan program B40, yakni campuran 40 persen biodiesel dan 60 persen solar. Menurut Amran, implementasi program tersebut telah memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan impor bahan bakar.
Ia menyebut Indonesia kini tidak lagi mengimpor sekitar 5 juta ton solar per tahun berkat penggunaan biodiesel berbasis sawit.
Mulai 1 Juli 2026, pemerintah berencana meningkatkan program tersebut menjadi B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen solar. Dengan peningkatan bauran energi tersebut, impor solar di targetkan di hentikan sepenuhnya.
“Wassalam, 1 Juli tutup enggak ada impor solar,” tegas Amran.
Dalam kesempatan itu, Amran juga mengajak kalangan akademisi dan perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam mendorong hilirisasi industri sawit nasional.
Tim peneliti ITS di sebut telah berhasil mengembangkan teknologi Benwit RON 90 yang mampu mengubah minyak sawit menjadi bensin. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 10 kilogram CPO dapat menghasilkan kurang lebih 5 liter bensin.
Teknologi tersebut di nilai berpotensi menghemat hingga 10 persen konsumsi bahan bakar minyak nasional apabila di terapkan secara luas di Indonesia.
Pemerintah berharap pengembangan energi berbasis sawit tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas sawit Indonesia di pasar global sekaligus mendorong pertumbuhan industri hilir dalam negeri.**







