Eksisjambi.com- Dalam Pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan pentingnya pemahaman sejarah dalam membangun kemandirian dan kekuatan ekonomi bangsa. Dalam pidatonya saat membuka pameran pertahanan Indo Defence 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Presiden mengungkapkan bahwa selama masa penjajahan, Belanda telah mengambil kekayaan Indonesia senilai US$ 31 triliun, atau setara dengan sekitar Rp 502 ribu triliun jika dikonversikan menggunakan kurs saat ini yakni Rp 16.200 per dolar AS.
Menurut Presiden Prabowo, angka fantastis tersebut menunjukkan betapa besar dampak eksploitasi kolonial terhadap kekayaan bangsa. Ia menegaskan bahwa nilai tersebut bahkan 18 kali lebih besar dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini, yang berada di kisaran US$ 1,5 triliun.
“Bayangkan, kalau kita bisa mempertahankan kekayaan itu sejak awal kemerdekaan, Indonesia hari ini mungkin sudah menjadi kekuatan ekonomi besar dunia,” ujar Prabowo di hadapan para tamu undangan, termasuk delegasi asing dan para pelaku industri pertahanan.
Ia juga menyoroti fakta sejarah bahwa selama masa penjajahan di Nusantara, Belanda sempat tercatat sebagai negara dengan GDP per kapita tertinggi di dunia. Menurutnya, fakta ini tak lepas dari eksploitasi sumber daya alam dan manusia Indonesia secara sistematis selama lebih dari tiga abad kolonialisasi.
Namun demikian, Presiden Prabowo juga mengakui bahwa pernyataan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut, terutama dalam hal sumber data dan metode perhitungannya. Ia menyebut bahwa estimasi tersebut bersumber dari berbagai studi sejarah dan ekonom, tetapi belum menjadi angka yang secara resmi diakui dalam forum internasional.
Pernyataan ini menuai perhatian luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dari pengamat luar yang tertarik pada diskursus dekolonisasi dan keadilan sejarah. Sejumlah akademisi menilai, langkah Presiden Prabowo membuka wacana semacam ini penting untuk mendorong penguatan nasionalisme sekaligus menyoroti perlunya reparasi sejarah atau pengakuan atas kerugian kolonial.
Sementara itu, pengamat ekonomi dan sejarah menilai bahwa mengkaji ulang dampak ekonomi kolonial secara akademis dan transparan adalah langkah yang strategis, apalagi jika disertai dengan pendekatan data dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Indo Defence 2025 sendiri merupakan ajang pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) terbesar di Asia Tenggara, yang tahun ini kembali digelar dengan melibatkan ratusan peserta dari dalam dan luar negeri. Dalam forum ini, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya kemandirian industri pertahanan nasional sebagai bagian dari strategi membangun kekuatan dan martabat bangsa secara utuh, termasuk dari sisi ekonomi dan sejarah.(*)







