JAKARTA,http://Eksisjabi.com – Nilai tukar rupiah perlahan memasuki tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat mengalami tekanan signifikan hingga nyaris menyentuh level psikologis Rp17.000/US$. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat melemah ke level Rp16.985/US$ pada 20 Januari 2026.
Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Sejak titik terlemahnya, rupiah berbalik arah dan mencatatkan penguatan secara beruntun. Hingga penutupan perdagangan pada Senin (26/1/2026), nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp16.770/US$, atau naik sekitar 1,27 persen di bandingkan level terendahnya.
Penguatan rupiah ini sejalan dengan prediksi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelumnya, Purbaya memperkirakan nilai tukar rupiah akan kembali menguat dalam rentang waktu dua minggu setelah mengalami tekanan.
Menurut Purbaya, salah satu faktor utama pendorong penguatan rupiah adalah mulai masuknya kembali aliran dana asing (capital inflow) ke pasar keuangan domestik. Selain itu, potensi kembalinya dana milik warga negara Indonesia yang sebelumnya di tempatkan di luar negeri juga di nilai turut menopang pergerakan positif rupiah.
“Fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat,” tegas Purbaya dalam pernyataannya.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV-2025 diperkirakan mampu mencapai 5,45 persen. Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat di tingkatkan hingga mendekati angka 6 persen.
Stabilitas ekonomi makro, pengendalian inflasi yang terjaga, serta kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional di nilai menjadi faktor penting dalam menjaga pergerakan rupiah tetap stabil ke depan.**







