Eksisjambi.com — Bangko — Peristiwa pengeroyokan yang dilakukan oleh kelompok Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun terhadap lima orang anggota Yonif TP-896/SP pada 26 Agustus 2026 menambah satu lagi catatan kebrutalan yang dikaitkan dengan kelompok suku tersebut di wilayah Provinsi Jambi.
Peristiwa itu terjadi tepatnya di areal perkebunan PT SAL desa Bukit Suban kabupaten Sarolangun Jambi sempat menghebohkan masyarakat luas, di mana anggota TNI yang sedang berpakaian dinas dikejar dan diserang oleh sekelompok orang yang diduga berasal dari kelompok SAD, bahkan terlihat membawa senjata tajam hingga senjata laras panjang.
Video yang merekam kejadian tersebut tersebar luas di berbagai platform media sosial, memperlihatkan anggota TNI diserang dan dipukul secara beramai-ramai, hal ini memicu kemarahan sekaligus kegaduhan di tengah masyarakat, terutama di Kabupaten Merangin.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan, mengingat Merangin berbatasan langsung dengan wilayah tempat peristiwa kekerasan itu terjadi, dan di wilayah ini juga bermukim sejumlah kelompok SAD.
Kecemasan serta kemarahan masyarakat di Bumi Tali Undang Tambang Teliti ini kian memuncak karena sudah begitu banyaknya catatan peristiwa yang dianggap merugikan dan mengancam keamanan yang dikaitkan dengan kelompok tersebut di wilayah mereka. Sejumlah warga yang ditemui di kawasan pusat kota Bangko menyampaikan kekhawatiran mereka secara terbuka.
“Sudah banyak tingkah laku SAD yang perlu kita waspadai. Mereka terang-terangan membawa senjata api ke tengah masyarakat, menjadi tempat gadai kendaraan, ada juga yang mencuri buah sawit milik warga, bahkan sekarang mereka sudah berani melakukan pemerasan terhadap masyarakat. Jika hal ini tidak segera diatasi, maka hal ini akan menjadi bom waktu bagi kita semua,” ungkap salah satu warga dengan nada serius di tengah obrolan warga lainnya.
Dengan rangkaian peristiwa yang terus terjadi di Kabupaten Merangin maupun wilayah tetangga yang dikaitkan dengan kelompok tersebut, muncul pandangan bahwa mereka seakan tidak merasa takut kepada siapa pun, termasuk aparat keamanan.
“Mereka seakan bangga dengan label primitif yang mereka sandang. Label itu justru mereka jadikan alasan dan perlindungan dalam segala hal yang mereka lakukan, Primitif seolah-olah membuat mereka kebal hukum. Hal inilah yang membuat mereka merasa bebas bertindak tanpa mempedulikan aturan hukum dan hak orang lain, jika mereka menganggap kita menggangu mereka, maka mereka akan menghutang “sangsi” kita. Dengan segala peristiwa yang terjadi ini, kita selaku masyarakat sangat berharap kepada para penegak hukum harus segera bertindak tegas. Jangan sampai warga sipil terus diserang, bahkan alat negara pun kini sudah berani mereka serang seperti yang terjadi di Sarolangun itu”, tegas warga tersebut di akhir pernyataannya.
Kecemasan yang melanda masyarakat Merangin ini menjadi sinyal bahwa jika tidak ada penanganan yang menyeluruh, tegas, dan berkeadilan, ketegangan antar-kelompok di tengah masyarakat dapat semakin memuncak dan berpotensi melahirkan konflik yang lebih besar di masa mendatang. *Bas R*







