Home / Daerah / Internasional / Nasional / Nasional / News / Sosbud

Sabtu, 14 Juni 2025 - 09:54 WIB

Terancam Punah? Mungkin Kita Jadi Generasi Terakhir yang Melihat Kunang-Kunang Secara Langsung

EksisJambi.com – Pernahkah kamu duduk di halaman rumah saat malam tiba, lalu melihat kerlip cahaya kecil beterbangan di rerumputan atau semak belukar? Ya, itu kunang-kunang—serangga mungil bercahaya yang dahulu jadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil banyak orang. Namun kini, pemandangan magis itu kian jarang ditemukan. Banyak ahli memperingatkan, kita mungkin menjadi generasi terakhir yang bisa menyaksikan kunang-kunang secara langsung.

Populasi kunang-kunang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, mengalami penurunan drastis. Sebuah studi global yang diterbitkan dalam jurnal BioScience menyebutkan bahwa lebih dari sepertiga spesies kunang-kunang kini terancam punah. Di Indonesia sendiri, laporan dari berbagai komunitas pencinta serangga menunjukkan bahwa beberapa habitat kunang-kunang yang dulunya aktif kini sudah senyap.

“Dulu hampir setiap malam kami bisa melihat kunang-kunang di sawah dekat rumah. Sekarang, jangankan serangga itu, sawahnya pun sudah berubah jadi bangunan,” kata Budi Raharjo.

Dua faktor utama penyebab penurunan jumlah kunang-kunang adalah hilangnya habitat alami dan polusi cahaya. Urbanisasi besar-besaran telah menggusur lahan basah, sawah, dan hutan kecil yang menjadi tempat hidup ideal bagi kunang-kunang.

Baca Juga :  Ketua DPRD Tanjab Barat Dampingi Mentri Manparekraf RI Sandiaga Uno Ke Wisata Mangrove Pangkal Babu

Selain itu, lampu jalan, gedung, hingga papan reklame LED menciptakan polusi cahaya yang mengganggu kemampuan kunang-kunang untuk saling berkomunikasi melalui sinyal cahaya mereka.

“Kunang-kunang sangat tergantung pada cahaya untuk kawin. Jika lingkungan terlalu terang, mereka gagal menemukan pasangan. Ini mengancam kelangsungan hidup spesies,” jelas Dr. Rina Maheswari, entomologi dari LIPI.

Selain kehilangan habitat dan cahaya buatan, penggunaan pestisida di pertanian serta perubahan iklim juga mempercepat penurunan populasi. Pestisida membunuh larva kunang-kunang yang hidup di tanah atau air, sedangkan perubahan pola cuaca membuat siklus hidup mereka kacau.

“Serangga seperti kunang-kunang sangat sensitif terhadap suhu dan kelembapan. Ketika musim hujan atau panas bergeser, mereka gagal beradaptasi,” ujar Rina.

Hilangnya kunang-kunang bukan sekadar kehilangan keindahan visual. Mereka memainkan peran penting dalam rantai makanan dan ekosistem. Larvanya memakan siput dan serangga kecil lain yang bisa menjadi hama tanaman. Kehilangan kunang-kunang bisa berarti gangguan pada keseimbangan ekosistem lokal.

“Kunang-kunang adalah bioindikator. Kalau mereka hilang, artinya ada yang tidak sehat dengan lingkungan kita,” ungkap aktivis lingkungan dari WWF Indonesia, Indra Saputra.

Baca Juga :  Ketika Merangin Hidup dari Asumsi dan Prasangka

Meski situasinya mengkhawatirkan, masih ada harapan. Beberapa komunitas dan taman konservasi di Indonesia mulai mengembangkan ekowisata kunang-kunang, seperti yang dilakukan di Kabupaten Merangin dan Lampung Barat. Di sana, kawasan hutan dipertahankan dan pencahayaan buatan dikendalikan untuk menjaga habitat serangga bercahaya ini.

“Anak-anak kami harus bisa melihat apa yang dulu kita lihat waktu kecil—malam yang hidup dengan cahaya alami dari kunang-kunang,” kata Wulan Fitri, relawan konservasi di Sumatera Selatan.

Selain itu, langkah-langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan lampu luar rumah, menanam vegetasi lokal, dan tidak menggunakan pestisida bisa membantu menjaga populasi kunang-kunang di lingkungan sekitar.

Apakah kita benar-benar akan menjadi generasi terakhir yang bisa melihat kunang-kunang langsung dengan mata kepala sendiri? Jawabannya tergantung pada tindakan hari ini. Mungkin kita tidak bisa mengembalikan semua habitat yang hilang, tapi kita bisa memulai dari halaman rumah dan kesadaran kolektif.

Sebab jika kunang-kunang menghilang, bukan hanya cahaya kecil yang kita kehilangan, tapi juga pengingat akan hubungan harmonis antara manusia dan alam.(*)

Share :

Baca Juga

Gubernur jambi Alharis

Advertorial

Gubernur Al Haris Maulid Nabi di Ponpes Kumpeh Daaru At-Tauhid

Daerah

Akibat Abrasi Tiga Rumah di Menteng Ambruk

Daerah

Masa Tua, Warisan Karya Tulis, dan Akhir Hayat Sang Ideolog Muhammadiyah
Festival Budaya kerinci

Advertorial

Kerinci Gelar Festival Budaya Kurintji 2025: “Balik Ku Dahin”, Meriah dan Sarat Makna

Advertorial

GUBERNUR AL HARIS RESMIKAN STUDIO MULTIPURPOSE LPP RRI JAMBI
Wawako Azhar Hamzah

Daerah

Wawako Azhar Nongkrong Santai di Warung Kopi Losiba

Advertorial

PJ Bupati Tebo Cek Lokasi Persiapan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Di Desa Perintis

Daerah

Alasan Muhammadiyah Menggunakan Metode Hisab dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah