JAKARTA, Eksisjambi.com – Memasuki 12 Oktober 2026, Monsun Australia di prakirakan kembali menguat dan berpotensi memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia.
Penguatan monsun ini umumnya membawa massa udara kering dari Benua Australia yang menyebabkan cuaca menjadi lebih kering, kelembapan udara menurun, serta meningkatkan kecepatan angin, terutama di kawasan Indonesia bagian selatan dan timur.
Dampak dari menguatnya Monsun Australia di perkirakan akan di rasakan di berbagai wilayah seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua bagian selatan.
Kondisi ini dapat memicu cuaca panas pada siang hari, minimnya curah hujan, serta angin bertiup lebih kencang di bandingkan biasanya.
Selain menyebabkan udara terasa lebih kering dan gersang, penguatan monsun juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di daerah yang telah mengalami musim kemarau cukup panjang. Asap akibat kebakaran berpotensi mengganggu kualitas udara serta aktivitas masyarakat.
Di sektor kelautan, angin yang semakin kencang juga dapat memicu peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan Indonesia.
Nelayan, operator kapal, dan masyarakat yang beraktivitas di laut di imbau meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi cuaca dan gelombang.
Sementara itu, masyarakat di wilayah terdampak di sarankan menghemat penggunaan air bersih, menghindari pembakaran lahan, serta menjaga kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air putih guna mengurangi risiko dehidrasi akibat udara yang lebih kering.
Masyarakat juga di Imbau terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan cuaca.*
Sumber: BMKG*







